IM
Showing posts with label Sejarah-Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sejarah-Sosial. Show all posts

Tuesday, June 8, 2010

Zionisme

Zionisme merupakan gerakan Yahudi Internasional. Istilah zionis pertama kali dipakai oleh perintis kebudayaan Yahudi, Mathias Acher (1864-1937), dan gerakan ini diorganisasi oleh beberapa tokoh Yahudi antara lain Dr. Theodor Herzl dan Dr. Chaim Weizmann. Dr. Theodor Herzl menyusun doktrin Zionisme sejak 1882 yang kemudian disistematisasikan dalam bukunya "Der Judenstaat" (Negara Yahudi) (1896). Doktrin ini dikonkritkan melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, tahun 1897. Setelah berdirinya negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, maka tujuan kaum zionis berubah menjadi pembela negara baru ini.


Silsilah Yahudi
Untuk mengetahui sejarah Yahudi harus membicarakan nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim disebut sebagai imam agama moneistik (Tauhid), yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Nabi Ibrahim berasal dari Babylonia, anak seorang pemahat patung istana bernama Azar. Beliau menentang penyembahan patung yang menyebabkannya dihukum bakar, tapi Allah menyelamatkannya. Beliau, bersama Sarah isterinya, hijrah ke Kanaan (Palestina Selatan), kemudian pergi ke Mesir dan menetap di sana sementara waktu karena di Kanaan terjadi paceklik.

Usia Nabi Ibrahim semakin menginjak usia senja, tapi belum juga dikaruniai anak. Kemudian beliau menikahi—atas perkenaan Sarah—seorang wanita cantik bernama Hajar. Sebenarnya Hajar adalah wanita merdeka, bukan seorang budak. Ia adalah anak dari Raja Mesir, Fir’aun (Syaikh Shafiyyur-rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, 1997: 28). Kemudian beliau sekeluarga meninggalkan Mesir kembali ke Palestina.

Di Palestina, lahir anak dari Hajar bernama Ismail. Sarah merasa cemburu dan meminta agar Nabi Ibrahim menjauhkan mereka darinya. Allah membimbing Nabi Ibrahim menuju lembah tandus dan gersang, yaitu Makkah; daerah yang belum dihuni manusia satu pun. Nabi Ibrahim membekali keduanya dengan wadah air dan korma kemudian kembali ke Kanaan. Setelah bekal dan air telah habis, tiba-tiba air Zamzam memancar berkat karunia Allah. Nabi Ibrahim mengunjungi Nabi Ismail dan Hajar sebanyak empat kali. Pada pertemuan ketiga mereka sepakat membangun Ka’bah (Ibid., h. 29-30). Dari keturunan Nabi Ismail as. inilah lahir nabi penghujung zaman, yaitu Nabi Muhammad Saw.

Nabi Ibrahim dikaruniai anak dari Sarah yang bernama Ishaq. Kemudian Nabi Ishaq as. dikaruniai anak bernama Yaqub, yang digelari dengan Israel. Nabi Yaqub as. mempunyai dua isteri dan 12 anak. Dari isteri pertama lahir dua anak (nabi Yusuf as. dan Benyamin), sedangkan dari isteri kedua lahir sepuluh orang anak. Yaqub lebih mencintai Nabi Yusuf as. daripada anak-anaknya yang lain. Sehingga mereka bersepakat untuk melenyapkan nabi Yusuf as. Tapi Allah menyelamatkannya dan membawanya ke Mesir, pusat peradaban waktu itu. Di sana beliau menjadi menteri untuk menanggulangi ancaman kelaparan. Keturunan nabi Yaqub (Israel) berkembang biak di Mesir dan terbagi menjadi dua belas suku.

Dari keturuan Yaqub lahir Nabi Dawud as. (David) yang menjadi raja kerajaan Judea Samaria. Kemudian digantikan oleh anaknya, Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman as., membawa bangsa Yahudi ke zaman keemasan. Yerussalem dibangun pada dataran di atas bukit Zion dan menjadi pusat kota serta didirikan tempat ibadah yang megah. Orang Arab menyebutnya Haikal Sulaiman (Kuil Sulaiman, Solomon Temple), al-Masjid al-Aqsa, dan al-bait al-Maqdis.
Akibat kesombongan kaum Yahudi (Israel), Allah murka dan mengazab mereka. Akhirnya kerajaan mereka hancur dan mereka mengalami pengusiran demi pengusiran, penyiksaan serta perbudakan. Allah menurunkan Nabi Isa as. untuk memberikan peringatan kepada kaum Yahudi agar hidup sesuai dengan ajaran Allah.

Ideologi Zionisme
Ideologi zionis menyatakan bahwa bangsa Yahudi adalah “bangsa pilihan” dan Bani Israil lebih unggul dari manusia yang lain. Lebih dari itu, kaum zionis merasa berhak melakukan kekejaman atas bangsa lain. Idiologi rasis ini masuk ke dalam agenda dunia di akhir-akhir abad ke sembilan belas oleh Theodor Herzl (1860-1904), seorang wartawan Yahudi asal Austria.

Herzl dan teman-temannya membuat propaganda menjadikan kaum Yahudi sebagai ras terpisah dari Eropa. Pemisahan ini tidak akan berhasil jika mereka masih hidup “serumah” dengan masyarakat Eropa. Karena itu, membangun tanah air kaum Yahudi menjadi sangat penting. Theodor Herzl, sang pendiri zionisme, mulanya memilih Uganda. Kemudian Sang Zionis memutuskan untuk memilih Palestina. Alasannya, Palestina dianggap sebagai “tanah air kaum Yahudi” dan “tanah yang dijanjikan Tuhan”. Inilah pangkal mula kenapa tanah Palestina terus dibanjiri air mata dan darah sampai saat ini.

Konspirasi Zionis terhadap bangsa Palestina bermula dari tahun 1621 C.E, tiga abad sebelum Janji Balfour. Yaitu disaat buku yang berjudul “Kebangkitan Besar Dunia” (The Great Revival of the World) yang ditulis oleh Henry Fish, seorang Yahudi menyerukan kepada seluruh keturunan Yakub yang hidup dalam diaspora untuk kembali ke Palestina guna membangun Negara yang dapat meredupkan seluruh bangsa-bangsa dunia. Selain itu, seorang Rabbi yang bernama Zeimy Hersh Calisher (1795-1874) menerbitkan buku karyanya yang berjudul, “Mencari Zion” (The Search for Zion). Di sini Zeimy menegaskan bahwa bekerja di tanah suci adalah suci dan sakral. Maka dari itu ia menganjurkan semua orang Yahudi untuk datang dan bermukim di Palestina. Kemudian, Moses Hess (1812-1875) mempublikasikan buku yang berjudul, Roma dan Jerusalem pada tahun 1862. Di dalam buku ini ia menandaskan suatu fakta bahwa percampuradukan Yahudi dalam komunitas-komunitas lokal bukanlah suatu solusi praktis bagi persoalan yang dihadapi mereka. Yahudi berserakan, putus asa, disiksa dan hidup hina dina sebagai manusia. Ia menambahkan bahwa ras Yahudi merepresentasikan suatu bangsa Yahudi yang tersendiri dan ia menyerukan agar Yahudi dapat merestorasi kehidupan nasional mereka dan mendirikan koloni-koloni di atas tanah suci dengan bantuan dan dukungan Prancis. Setelah Napoleon berhasil menginvasi Mesir dan Syria, sang pemimpin Prancis telah meminta kepada orang Yahudi untuk berimigrasi ke Palestina dan untuk mendirikan Negara independen serta mengembalikan kegemilangan masa lalu mereka di Palestina. Akhirnya, Theodore Hertzl (1860-1904) menjadi agak tersohor dalam ideologi Yahudi di saat ia menulis bukunya yang berjudul “Negara Yahudi” di kota Berlin pada tahun 1896, di mana Hertzl mengajak kepada kaumnya untuk mengembalikan Negara Yahudi. Ia bekerjasama dengan Heim Wiseman untuk mengadakan Konferensi Zionis di Basel, Swiss pada tahun 1897. Pada awalnya ia tidak mematok pendirian Negara Yahudi ini di Palestina, tapi itu dianggap perlu untuk menggalang Yahudi dari seluruh dunia agar mau berkumpul di sekitar Gunung Zion sesuai dengan prinsip-prinsip Zionis. Akhirnya, mereka memilih Palestina untuk menjadi tempat bagi pendirian Negara ini. Konferensi itu berhasil mendirikan Negara nasional Yahudi di Palestina yang terjadi setelah berhasil mendirikan Gerakan Zionis.

Ini perlu untuk membedakan antara teologi Zionisme dan kebijaksanaan Zionisme. Karena yang pertama berhubungan dengan sisi spiritual gerakan Zionisme yang menjelmakan diri dalam mimpi untuk kembali ke Zion—Tanah yang Dijanjikan—Sebagaimana telah diserukan oleh Yahudi sejak mereka ditawan di Babylon pada tahun 586 S.M. Paradigma ini telah dihidupkan kembali di zaman modern Rusia dan Eropa Timur pada abad 19, karena Yahudi betul-betul didera siksaan yang sangat.

Pada sisi lain, Zionisme politis muncul di daratan Eropa Barat yang menekankan perlunya untuk membentuk Negara Yahudi, oleh karena itu gerakan ini menjadi bentuk baru dari nasionalisme bangsa Yahudi. Zionisme politis menggunakan keimanan Yahudi dalam upaya realisasi tujuan-tujuan mereka dalam membangun Negara Yahudi yang berdasarkan pada ajaran-ajaran Perjanjian Lama (kitab Taurat). Kitab ini menggambarkan bahwa bangsa Yahudi adalah manusia pilihan Tuhan khususnya dalam sumpah Tuhan kepada Ibrahim : “Kepada para keturunanmu Aku telah berikan tanah ini yang membentang dari Sungai Mesir (Nil) hingga sampai ke Sungai Besar (Efrat).” Diktum ini dijadikan sebagai landasan pijak ajaran Zionisme. Heim Wiseman, Presiden Pertama Israel, setelah berdirinya Negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948 mengatakan bahwa naluri agama adalah esensi dari Zionisme dan sebaga sumber kekuatannya. Hal ini dikarenakan Zionisme berdasarkan pada tradisi Yahudi dan keimanan mereka. Di samping itu juga pada keyakinan kuno Yahudi yang muncul dalam tahapan awal kehidupan Yahudi di mana mereka benar-benar hidup bebas. Itu menjadi jelas bahwa Zionisme politis telah dipergunakan dan ditanamkan untuk menjadi bagian dari ajaran agama Zionisme dalam upaya mewujudkan target-target politis guna mendirikan Negara Yahudi. Dua pengertian dari Zionisme ini bercampuraduk dan diorganisir secara apik oleh para pimpinan Zionis, khususnya Herzl. Lebih dari itu, sisi dari Zionisme itu masing-masing menegaskan bahwa Jerusalem adalah kunci dari segala upaya mereka. Herzl mengatakan bahwa ia akan menghancurkan segala sesuatu kecuali permukiman Yahudi yang berada di Jerusalem bila saja ia berkeinginan untuk tinggal di kota itu. Dari sini timbul kabar burung tentang upaya penghancuran Masjid Al Aqsa dengan maksud untuk membangun apa yang disebut dengan Haikal Sulaiman (Solomon Temple) tepat di atas reruntuhan Masjid tersebut.


Seluruh pimpinan Zionis dari Ben Gurion hingga Netanyahu (dan sekarang Ehud Olmert) telah menandaskan bahwa Jerusalem adalah kota penting dalam ideologi Zionis guna membangun Negara Yahudi melalui upaya imigrasi dan membangunan pemukiman. Sejak saat itu, zionisme dikenal sebagai gerakan politis yang rasial dan bertujuan untuk mengumpulkan seluruh bangsa Yahudi dari semua penjuru dunia untuk mendirikan Negara Yahudi mereka di Palestina. Langkah ini dengan cara membangun perumahan dan pemukiman baru Yahudi yang didukung oleh kekuatan-kekuatan Zionis dengan motto : “Tanah yang tidak berpenduduk untuk rakyat yang tidak bernegara.” Lebih dari itu, Zionisme dapat didefinisikan sebagai trend agama imperial yang ekstrim yang diyakini oleh Yahudi ekstrimis untuk menjadikan dunia secara keseluruhan di bawah kekuasaan para pengikut Daud. Keyakinan ini sesuai dengan apa yang tercantum di dalam Perjanjian Lama dan membuat seluruh manusia sebagai pelayan kaum Yahudi sesuai dengan keprotokolan Para Mereka Yang Bijak, Zionis. Ini menjustifikasi Yahudi untuk membunuh orang Non-Yahudi. Untuk meraih apa yang sudah menjadi tujuan-tujuan mereka, Zionisme berpegak teguh pada Machiavellianisme (Tujuan Menjustifikasi Semua Cara). Maka dari itu Zionisme menggunakan metoda setan, berdarah dan licik, tanpa memandang sisi moralitas untuk mencaplok Palestina dan khususnya Jerusalem. Metodologi ini telah dipergunakan untuk menjustifikasi seluruh pertumpahan darah dan kekerasan yang telah dilakukan dalam membantai bangsa Palestina sejak munculnya Negara Yahudi Israel pertama kali. Kesimpulan definisi Zionisme dan sikapnya terhadap Palestina dan Jerusalem yang menguak kedengkian yang menggoda dalam hati kaum Yahudi. Hal ini disebabkan oleh nasib mereka yang terus diusir oleh bangsa-bangsa lain seperti orang Babylonia dan Romawi, penyiksaan mereka secara politis di Eropa, di mana mereka dahulu hidup di lokasi privat yang disebut dengan Ghetto di daratan Eropa Timur. Sebagai contoh, pada suatu saat ketika pejabat Yahudi dituduh dengan berkhianat di Prancis dan penyiksaan dilakukan oleh Nazi di Jerman terhadap seluruh Yahudi. Namun, Zionisme tidak melampiaskan kebencian dan rasa permusuhannya pada daratan Eropa di mana mereka selalu tersiksa, tapi sebaliknya mereka gantungkan harapan kepada Eropa untuk meminta bantuan dan dukungan untuk mencaplok Palestina, khususnya Jerusalem. Ini dilakukan dengan cara mengusir bangsa Palestina dari negeri leluhur mereka ke berbagai pelosok dunia. Akhirnya, tujuan-tujuan yang dicita-cita oleh Zionisme semakin menjadi jelas kepada setiap orang :

1. Mengumpulkan bangsa Yahudi dari seluruh pelosok dunia.
2. Memelihara pilar-pilar Negara Yahudi dan begitu juga halnya dengan keamanan.
3. Memperluas wilayah regional melalui perluasan pemukiman dengan target untuk membangun Israel Raya dan dengan ibukotanya, Jerusalem.
4. Menguasai wilayah Timur Tengah.

Untuk mencapai tujuan dasar yaitu mendirikan negera Yahudi, rancangan-rancangan Zionis diterapkan dalam dua langkah. Langkah pertama yaitu kolonialisasi internal Palestina dengan termasuk menggalakkan imigrasi dan pembelian tanah untuk pembangunan pemukiman serta perumahan Yahudi. Kedua adalah kolonialisasi eksternal Palestina dengan cara meraih dukungan dari kekuatan-kekuatan dunia serta mendapatkan pengakuan Negara Yahudi di Palestina secara internasional dengan cara membangun Negara yang dilindungi oleh lembaga internasional.

Keruntuhan Kekuasan Ustmaniyah :
Setelah orang-orang Ustmaniyah berhasil mengalahkan bangsa Mamluk di Marj Dabeq di dekat kota Aleppo pada tahun 1516, mereka berkuasa di Palestina selama 4 abad hingga datanglah masa imperialisme modern. Hal ini sesuai dengan kesepakatan Sikes-Picot yang ditandatangani oleh Inggris dan Prancis pada tahun 1916 serta Janji Balfour yang dikeluarkan pada tanggal 2 Nopember 1917.

Aksentuasi tulisan ini akan diberikan pada penggalan terakhir masa tersebut yang menjadi masa akhir dari kekuasaan Ustmaniyah dan permulaan zaman imperialisme modern pada akhir abad ke 19 M dan permulaan abad ke 20. Pada masa ini agresi-agresi Zionis terhadap hak-hak Arab di Palestina menjadi semakin nampak jelas dan lebih serius, dengan maksud untuk membangun Negara Yahudi yang didasari oleh dua tingkatan yang telah disebutkan di atas. Kelompok pertama yang berimigrasi ke Palestina dan koloni pertama yang dibangun terjadi pada tahun 1882. Tapi imigrasi secara teroganisir dengan baik mulai dilakukan secara resmi langsung setelah Konferensi Basle pada tahun 1897 di saat persoalan Yahudi menjadi permasalahan nasional. Tujuan utamanya adalah untuk mendirikan Negara nasional bagi bangsa Yahudi dengan segala cara. Maka dari itu, Konferensi telah menentukan tujuan-tujuan kolonial bagi Yahudi di Palestina sebagai berikut :

1. Berencana untuk menjajah Palestina dengan cara para pekerja pertanian dan industri sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu.
2. Mengorganisir ajaran Judaisme internasional dan menghubungkannya dengan organisasi-organisasi serupa sesuai dengan peraturan dan undang-undang setempat.
3. Meningkatkan jiwa kesadaran dan perasaan partriotik Yahudi.
4. Melakukan prosedur praktis yang perlu untuk mendapatkan pengakuan pemerintah guna mencapai cita-cita Zionis.
5. Menciptakan standar komunikasi resmi bahasa Ibrani di seluruh dunia.

Tujuan-tujuan ini membuktikan bahwa Zionisme dirancang oleh individu-individu yang berakal licik dan pintar yang telah mentransformasikan Zionisme dari sekedar trend agama menjadi gerakan politik dan mengkhususkan wilayah Palestina sebagai wilayah nasional Yahudi. Lebih dari itu, hal itu telah menetapkan metoda-metoda kolonialisasi dengan menggunakan para pekerja pertanian dan industri, di samping dengan menggairahkan semangat patriotic Yahudi, menekankan pentingnya bahasa dan kultur Yahudi.

Adapun hal yang berhubungan dengan fase/tingkat kedua, gerakan Zionis telah menjalin hubungan yang mesra dengan Negara-negara kuat di Eropa pada masa itu, seperti Jerman, Rusia, Prancis dan Inggris serta begitu juga halnya dengan kerajaan Ustmaniyah. Karena Palestina masih berada di bawah kekuasaan Ustmaniyah. Herzl mengirim delegasi kepada kaisar Ustmaniyah, Sultan Abdul Hamid II. Delegasi ini mengadakan negosiasi dengan sultan untuk memberikan izin kepada Yahudi berimigrasi ke Palestina. Untuk mencapai apa yang dimaksud, mereka merayu sultan dengan menawarkannya sejumlah uang yang banyak dan akan melunasi hutang-piutang kerajaan Ustmaniyah. Namun Sultan tetap saja kokoh berpendirian dengan mengatakan : “Katakan kepada Dr.Herzl bahwa Palestina bukanlah harta pribadi saya namun itu adalah milik semua umat Islam di dunia. Dengan demikian saya tidak dapat menyerahkan bagian manapun dari wilayah tersebut, walaupun itu harus merenggut nyawaku. Karena umat Islam telah mendudukinya dan menggenangi tanahnya dengan tetesan darah mereka. Kemudian sultan memerintahkan bahwa delegasi harus segera dikeluarkan.

Selanjutnya, Sultan mengeluarkan perintah untuk melarang imigrasi Yahudi ke Palestina. Sebagai respon sikap Sultan ini, Zionis berkolaborasi dengan Partai Turki “Al Itehad Wattaraqy” yang berupaya untuk menggulingkan Sultan pada tahun 1908 agar dapat mengizinkan bangsa yahudi berimigrasi ke Palestina. Akhirnya Kekhalifaan Islam dibubarkan oleh Mustafa Kamal Ataturk pada tahun 1924 yang berhasil mentransformasikan Turki menjadi sebuah Negara sekular yang berhubungan erat dengan Barat. Dan Zionis bekerjasama dengan Inggris untuk mewujudkan cita-cita mereka mendirikan Negara Yahudi di Palestina.

Mandat Inggris :
Masing-masing kepentingan Zionis dan Inggris berpadu dan bertemu di Timur Tengah. Zionisme menghentikan ide mendirikan Negara Yahudi di Uganda sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Konferensi Zionis Keenam yang diadakan pada tahun 1903. Zionisme bersikeras menjadikan Palestina sebagai pilihan final untuk mendirikan negara Yahudi yang telah diakui oleh undang-undang dasar. Konsekuensinya, Inggris memperluas wilayah koloninya dengan cara menguasai banyak negara-negara bagian dari kerajaan Ustmaniyah, khususnya setelah Perang Dunia Pertama pecah pada tahun 1914, dan dengan menandatangani beberapa perjanjian dan kesepakatan. Kerajaan Ustmaniyah dikenal sebagai “Orang Sakit” di mana warisan kejayaannya harus dipecah oleh negara-negara kuat Eropa. Dengan dukungan pihak Zionis kepada Inggris semasa Perang Dunia Pertama, Inggris akhirnya mengeluarkan Janji Balfour satu tahun setelah kesepakatan Sikes-Picot. Janji ini dengan tujuan untuk mewujudkan mimpi-mimpi Zionis untuk membangun Negara Yahudi yang bertentangan dengan kepentingan dan aspirasi bangsa Arab. Rencana ini berlangsung di tengah surat menyurat yang berjalan intensif antara Sharif Hussein ibn Ali dan MacMahon di Inggris yang menjanjikan untuk membangun Negara Kesatuan Arab yang merdeka di Timur, termasuk Palestina.

Akhir perkembangan ini, ada konspirasi yang berlangsung untuk mengeluarkan Palestina dari jajaran negara Arab yang sudah menjadi isu internasional sebagai langkah awal mendirikan negara Yahudi di bawah Mandat Inggris. Ini terjadi di saat Inggris menjajah Palestina dengan pengesahan dari Liga Bangsa-bangsa. Dan ini berlanjut ke langkah berikutnya yang berakhir pada pendirian negara Yahudi sesuai dengan resolusi divisi Perserikatan Bangsa-bangsa pada tahun 1947.

Perlu untuk disebutkan bahwa laporan Camppel Banreman memainkan peranan penting dalam kebijakan-kebijakan imperial Inggris yang berhubungan dengan rencana-rencana Zionis. Karena itu menentang rencana mendirikan negara Arab Serikat. Laporan ini juga merekomendasikan pemisahan dunia Arab menjadi dua bagian : satu bagian di Afrika dan lainnya di Asia dengan cara menciptakan negara antagonis yang kuat terhadap masyarakat lokal di dekat Terusan Suez. Maka dari itu, Menteri Luar Negeri Inggris menandaskan situasi ini di saat ia mengatakan : “Inggris menganggap pendirian negara Yahudi di Palestina sebagai peluang yang baik untuk mengembangkan kebijakan Inggris di wilayah tersebut. Ini akan dapat mempermudah kita mempertahankan Terusan Suez di utara, dan negara ini akan menjadi tempat yang strategis.” Pada sisi lain, Churchill menekankan bahwa pendirian Negara Yahudi di tepi sungai Jordan di bawah perlindungan Mahkota Kerajaan Inggris terjadi karena sejalan dengan kepentingan vitalnya di wilayah tersebut. Ini menguak peranan signifikan Inggris dalam menyokong rencana-rencana Zionis dan mempersiapkan negara Yahudi di Palestina dengan Jerusalem sebagai ibukotanya. Ini merupakan kunci dukungan dalam mewujudkan tujuan-tujuan imperial Inggris yang vital dan dilakukan dengan cara mengeluarkan Janji Balfour dan pemerintahan Mandataris Inggris di Palestina. Berikutnya, Amerika Serikat mengambil alih posisi Inggris dalam melindungi maslahat Zionis dan begitu juga halnya dengan Kongres Amerika yang mengakui masing-masing Janji Balfour dan Mandataris Inggris di Palestina. Setelah itu, Inggris mendirikan konsulat Barat pertama di Jerusalem pada tahun 1839 untuk mensponsori kepentingan-kepentingan Yahudi di Palestina.

Janji Balfour adalah dokumen pertama Inggris yang memberikan dukungan kepada rencana-rencana kolonial Yahudi di Palestina untuk mendirikan Negara nasional Yahudi. Menteri Luar Negeri Inggris, Balfour mengeluarkan pernyataan politik pada tanggal 2 Nopember 1917 dalam bentuk surat kepada Lord Rutchild, selaku representative Federasi Zionis. Dalam surat ini, Balfour mengatakan : “Pemerintahan Paduka Yang Mulia Sang Ratu, bersimpati dengan rencana pendirian negara nasional Yahudi di Palestina. Dan kami dalam melakukan yang terbaik untuk memfasilitasi misi ini dengan tetap memperhatikan hak-hak relijius dan sipil komunitas lain di Palestina atau status politis Yahudi di negara-negara lain. Kendati Janji ini dijelaskan dalam bentuk janji seseorang yang tidak memiliki sesuatu kepada orang yang tidak memiliki hak-hak. Janji ini memberikan gerakan politik Zionisme suatu konsep Negara Yahudi yang dirancang oleh Piagam Mandataris yang diselubungkan sebagai negara nasional Yahudi. Akibatnya banyak agresi Zionis terhadap hak-hak Arab baik di Palestina dan Jerusalem terjadi. Secara internasional, Janji Balfour menggambarkan bangsa Arab di Palestina sebagai komunitas non-Yahudi dan menganggap Yahudi sebagai putra pribumi Palestina serta bangsa Arab adalah orang asing. Hal itu juga menegaskan hak-hak sipil dan agamis dengan mengesampingkan hak-hak politik yang secara efektif dapat mengikis identitas Arab Palestina dengan maksud untuk mempersiapkan negara Yahudi. Yang berhubungan dengan Piagam Mandataris Inggris yang telah disiapkan untuk pembangunan negara Yahudi selama 30 tahun sebelum resolusi pembagian pada tahun 1947. Hal itu juga telah disahkan oleh Liga Bangsa-bangsa pada bulan September 1922. Piagam ini melegalisasi negara Yahudi dengan menitikberatkan hubungan historis Yahudi dengan Palestina. Piagam ini menjadikan Arab harus kehilangan representasi hak-hak politik di pemerintahan Inggris, sementara di lain pihak hal itu mengakui Lembaga Yahudi sebagai representasi dan rujukan seluruh Yahudi di dunia. Organisasi ini dianggap sebagai lembaga konsultatif dalam bidang ekonomi dan peranan sosial yang pada tahapan berikutnya bertujuan untuk mendirikan negara Yahudi dengan cara imigrasi dan berinvestasi di sektor permukiman umum dengan tidak membahayakan kelompok lain sesuai dengan pasal 6. Pada bagian lain, Pasal 22 menganggap Ibrani sebagai salah satu dari bahasa resmi di samping bahasa Arab dan Inggris. Sementara itu Pasal 23 memberikan hari-hari libur Yahudi walaupun jumlah populasi mereka kurang dari 7%.

Para pejabat Mandat Inggris sangat jujur dalam realisasi Janji Balfour. Maka mereka mengambil langkah prosedural yang praktis di mana agresi-agresi pertama Zionis terhadap hak-hak bangsa Arab di Palestina termasuk Jerusalem berlangsung di bawah perlindungan pemerintah Inggris. Konspirasi bermula di saat Jenderal Allenby memasuki Jerusalem pada tahun 1918, setelah ia menduduki Palestina untuk menandai keruntuhan kerajaan Utsmaniyah. Penjajahan ini disahkan oleh Liga Bangsa-bangsa dengan sebuah deklarasi di dalam Piagamnya pada tahun 1922.


Sementara itu, Herbert Samuel, yang merupakan representative Inggris pertama di Palestina mengumumkan bahwa ia datang ke Palestina untuk menjalankan perintah-perintah dan prosedus-prosedur dalam upaya mendirikan negara Yahudi sesuai dengan Janji Balfour. Dengan demikian administrasi Inggris di Palestina mengadopsi kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur berikut ini untuk menjamin pendirian negara Yahudi.

1. Meningkatkan imigrasi Yahudi ke Palestina agar dapat menyamakan keseimbangan jumlah mereka dengan penduduk Palestina. Karena jumlah total orang Yahudi adalah 50 ribu (8%) pada awal pemerintahan Mandat Inggris. Jumlah ini bertambah menjadi 70 ribu (33%) di saat Inggris meninggalkan Palestina pada tahun 1948.
2. Membeli atau merampas tanah yang diperlukan untuk membuatkan rumah bagi Yahudi baru dengan cara membangun koloni pertanian. Pada tahun 1945, Yahudi mengelolah 160 ribu hektar yang menjadi lebih mudah karena penegakan undang-undang dan peraturan Inggris. Khususnya pajak tinggi dibebankan kepada para petani Palestina yang dipaksa untuk menjual tanah mereka.
3. Dukungan financial secara utuh bagi bangsa Yahudi melalui penggalangan danah dan donasi dengan tujuan untuk membeli tanah dan membangun proyek-proyek yang dianggap perlu. Program ini berjalan dengan dukungan dari Inggris dan organisasi-organisasi Zionis di seluruh dunia.
4. Menunjuk para Zionis ektrim untuk menduduki posisi penting dan memberikan mereka investasi yang signifikan dan vital seperti suplai tenaga listrik di Jerusalem untuk masa 70 tahun yang akan datang dan proyek investasi di Laut Mati.
5. Mengizinkan orang Yahudi untuk membawa senjata dengan alasan untuk pembelaan diri, terutama setelah timbulnya gerakan perlawanan bangsa Palestina di tahun 1920 dan secara khusus Al Buraq pada tahun 1929. Hal ini membolehkan bangsa Yahudi untuk membangun kekuatan bersenjata dengan pengawasan dari para pembesar militer Inggris yang terlatih.
6. Pada tataran politik, Inggris tidak membolehkan bangsa Palestina untuk mengurus diri mereka sendiri atau bahkan untuk membentuk sesuatu seperti lembaga legislative, selama mereka sebagai mayoritas. Tapi revolusi pada periode 1935-1936 mendorong Inggris untuk membentuk Komite Bill pada tahun 1937 yang merekomendasikan pemecahan Palestina dalam dua negara. Pertama wilayah bagi Palestina dan yang satunya lagi buat bangsa Yahudi. Maka dari itu, isu Palestina dirujukkan pada Perserikatan Bangsa-bangsa yang didirikan pada tahun 1945 setelah Perang Dunia Kedua telah dimulai.

sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Zionisme
http://laodesabaruddin.wordpress.com/2009/01/07/sejarah-pendudukan-zionisme-israel-terhadap-yerusalem-palestina/
http://www.beranibeda.com/self-development/42-self-development/225-sejarah-zionisme-bagus
http://konspirasi.com/sejarah/zionisme-freemasonry/
http://www.nfbs.or.id/?q=topik/artikel/30/04/2009/selintas-sejarah-yahudi-dan-zionisme

Wednesday, May 12, 2010

Pemancar Radio Pertama di Indonesia Sepanjang 2KM : Malabar tempat terkenal di dunia

Gunung Puntang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Malabar. Di kawasan ini terdapat bumi perkemahan yang dikelola oleh pihak Perhutani. Udara yang sejuk pada ketinggian 1290 m, sungai yang jernih ditambah dengan paduan pohon pinus yang tumbuh alami, memberikan kedamaian tersendiri saat berada di lokasi. Keindahan panorama sekitar kawasan ini sudah bisa dinikmati sepanjang perjalanan semenjak dari persimpangan jalan Banjaran-Pangalengan dan jalan Gunung Puntang. Saat tiba di gerbang Perhutani, sempatkan waktu berhenti sejenak untuk melihat hamparan Plato (lempengan) Bandung dari ketinggian. Kabarnya, di musim penghujan, area Malabar merupakan salah satu daerah konsentrasi hujan.
Untuk masuk ke areal perkemahan, dikenakan biaya yang relatif murah. Tiket perorangan 4000 rupiah per hari, sewa lahan per 3 orang 2500 rupiah, sepeda motor 1000 rupiah, sedan/minibus 3000 rupiah sedangkan bus/truk 5000 rupiah. Selain berkemah, aktifitas-aktifitas outdoor seperti forest tracking atau sekedar main air di kali yang jernih dapat menjadi pilihan bagi pengunjung. Sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meter dapat menjadi target alternatif dengan cara melakukan perjalanan selama 2 jam menembus hutan. Untuk mencapai lokasi Curug Siliwangi ini, sebaiknya menggunakan jasa pemandu arah setempat agar tidak tersesat.

Lahan perkemahan yang ada di kawasan ini cukup nyaman. Sudah tersedia fasilitas MCK (sayang, kurang terurus), rumah kecil milik perhutani (cabin) yang bisa disewa (cukup mewah untuk ukuran “anak gunung”), dan yang paling penting, beberapa warung juga tersedia! Bahkan fasilitas listrik juga sudah masuk.
Tidak hanya menawarkan wisata alam yang menyejukkan hati, dikawasan ini terdapat sebuah objek wisata sejarah peninggalan bangsa Belanda yang cukup unik. Pada tahun 1923 area ini merupakan suatu lokasi yang sangat terkenal di dunia karena terdapat sebuah stasiun pemancar radio Malabar yang dirintis oleh Dr. de Groot. Sebuah pemancar radio yang sangat fenomenal dikarenakan antena yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio memiliki panjang 2Km, membentang diantara gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 meter. Sulit untuk dibayangkan bagaimana cara mereka membangun dengan menggunakan teknologi yang ada pada masa tersebut.
Foto Bangunan Tempat Radio Malabar Berada

Pada saat berdirinya International Amateur Radio Union (IARU) tahun 1925, wilayah nusantara masih dikuasai oleh Belanda, dan pada saat itu tengah berkecamuk Perang Dunia Pertama. Pada saat itu, komunikasi antara Netherland dengan Hindia Belanda (julukan untuk wilayah Nusantara) hanya mengandakan saluran kabel Laut yang melintas Teluk Aden yang dikuasai oleh Inggris.

Timbul kekhawatiran Belanda atas saluran komunikasi tersebut, mengingat Inggris terlibat dalam Perang Dunia Pertama tersebut sedangkan Belanda ingin bersikap netral. Oleh karenanya, dilakukanlah berbagai percobaan dengan menempatkan beberapa stasiun relay di Malabar, Sumatra, Srilangka dan beberapa tempat lagi.

Foto Pemancar Radio Malabar yang sangat besar
Foto Pemancar Radio Malabar yang sangat besar

Radio Malabar, berdiri tanggal 5 Mei 1923, merupakan pemancar yang menggunakan teknologi arc transmitter terbesar di dunia. Tampak pada gambar samping adalah dua buah arc transmitter yang besar dengan kekuatan 2400kW yang dibuat oleh Klaas Dijkstra yang bekerja untuk Dr. Ir. De Groot. Input power pemancar Radio Malabar adalah 3,6 MegaWatt dan bekerja pada frekuensi 49.2kHz dengan panjang gelombang 6100m dengan menggunakan callsign PMM. Daya untuk pemancar Radio Malabar dibangkitlan oleh sebuah pembangkit tenaga air buatan Amerika yang terletak di Pengalengan dengan tegangan 25kV.

Foto Pemancar Radio Malabar yang sangat besar

Radio Malabar merupakan cikal bakal amatir radio di Indonesia dan merupakan radio pertama di Indonesia untuk komunikasi jarak jauh. Frekuensi yang digunakan masih sangat rendah dalam panjang gelombang sangat panjang, tidak mengherankan jika [[antenna]] yang digunakan harus dibentangkan memenuhi gunung Malabar di Bandung Selatan. Sisa-sisa Radio Malabar masih terdapat di sana, yaitu berupa tiang-tiang antena-antena besar dan tinggi di tengah hutan.


Skema Antenna Radio Malabar Yang Meliputi Gunung

Pada tahun 1925, Prof. Dr. Ir. Komans di Netherland berhasil melakukan komunikasi dengan Dr. Ir. De Groot yang menggunakan Radio Malabar di Pulau Jawa. Kejadian ini merupakan titik tolak masuknya Komunikasi Radio di Indonesia, dan Pemerintah Hindia Belanda mendirikan B.R.V. (Batavian Radio Vereneging) dan NIROM.

Para teknisi yang bekerja di kedua instansi ini umumnya adalah orang Belanda dan ada beberapa Bumi putra, terus menekuni sistem komunikasi radio dengan melakukan koordinasi dan eksperimen bersama para Amatir Radio di dunia. Mereka membentuk sebuah perkumpulan yang dikenal dengan nama Netheland Indice Vereneging Radio Amateur (NIVIRA).

Seorang anggota NIVIRA Bumi Putra dengan Callsign PK2MN, memanfaatkan kemampuannya dalam teknik elektronika radio untuk membakar semangat kebangsaan dengan mendirikan stasiun radio siaran yang diberi nama Solose Radio Vereneging (SRV) yang ternyata mendapat simpati rakyat.

Keberhasilan ini ditiru oleh beberapa Anggota NIVIRA Bumi putra dengan mendirikan stasiun radio siaran serupa, antara lain MARVO–CIRVO–VORO–VORL. Pada tahun 1937, mereka bergabung dengan membentuk Persatoean Perikatan Radio Ketimoeran (PPRK). Perhimpunan ini tidak dilarang oleh kolonial Belanda karena dengan banyaknya masyarakat memiliki pesawat penerima radio maka mereka akan dapat memungut pajak radio sebanyak­-banyaknya.

Era pendudukan Jepang di Nusantara telah memusnahkan seluruh perangkat komunikasi radio dan radio siaran yang ada, NIROM dikuasai dan diganti namanya menjadi Hoso Kanry Kyoku, dan kegiatan Amatir Radio dilarang. Akan tetapi, Amatir Radio Bumi Putra tetap berjuang dengan melakukan kegiatan secara sembunyi­-sembunyi guna menunjang perjuangan kemerdekaan dengan membentuk Radio Pejuang Bawah Tanah, dan tak sedikit Amatir Radio yang dipenggal karena dituduh sebagai mata­-mata Sekutu.

sumber :
http://home.luna.nl/~arjan-muil/radio/history/malabar/malabar1.html
http://navigasi.net/goart.php?a=tbpuntng
http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/Image:Radio-malabar-2.jpg
http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/13231/radio-hindia-belanda-terpancar-dari-gunung-puntang

Thursday, April 15, 2010

CANDI BOROBUDUR ; warisan Budaya lokal atau Internasional



Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati.

Letak

Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Secara astronomis terletak di 70.361.2811 LS dan 1100.121.1311 BT. Lingkungan geografis Candi Borobudur dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah Timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah Utara, dan pegunungan Menoreh di sebelah Selatan, serta terletak di antara Sungai Progo dan Elo. Candi Borobudur didirikan di atas bukit yang telah dimodifikasi, dengan ketinggian 265 dpl.

Bentuk Bangunan
- Denah Candi Borobudur ukuran panjang 121,66 meter dan lebar 121,38 meter.
- Tinggi 35,40 meter.
- Susunan bangunan berupa 9 teras berundak dan sebuah stupa induk di puncaknya. Terdiri dari 6 teras berdenah persegi dan3 teras berdenah lingkaran.
- Pembagian vertikal secara filosofis meliputi tingkat Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.
- Pembagian vertikal secara teknis meliputi bagian bawah, tengah, dan atas.
- Terdapat tangga naik di keempat penjuru utama dengan pintu masuk utama sebelah timur dengan ber-pradaksina.
- Batu-batu Candi Borobudur berasal dari sungai di sekitar Borobudur dengan volume seluruhnya sekitar 55.000 meter persegi (kira-kira 2.000.000 potong batu)

Deskripsi :
Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.

Bagian dasar Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.


Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).
Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Karenanya, candi ini dapat dijadikan media edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari ajaran Budha.

Sejarah Candi Borobudur

Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar.

Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.

Nama Borobudur
Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada kata yang berasal dari Bali Beduhur yang berarti di atas. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit.

Prof. JG. De Casparis mendasarkan pada Prasasti Karang Tengah yang menyebutkan tahun pendirian bangunan ini, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824 Masehi), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam prasasti didapatlah nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang bagi arwah-arwah leluhurnya. Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.

Pembangunan Candi Borobudur
Candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.

Sebelum dipugar, Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan. Pemugaran selanjutnya oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann, setelah itu periode selanjutnya dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang. Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.

Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalur.

Materi Candi Borobudur
Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jika rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir.
Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia.

Misteri seputar Candi Borobudur
Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan?. Gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmiah, terutama tentang ruang yang ditemukan pada stupa induk candi dan patung Budha, di pusat atau zenith candi dalam stupa terbesar, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha yang tidak sempurna yang hingga kini masih menjadi misteri.

***********************
Kronologis Penemuan dan pemugaran Borobudur
  • 1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
  • 1873 – monografi pertama tentang candi diterbitkan.
  • 1900 – pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
  • 1907 – Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
  • 1926 – Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.
  • 1956 – pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
  • 1963 – pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
  • 1968 – pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
  • 1971 – pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.
  • 1972 – International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
  • 10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984
  • 21 Januari 1985 – terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali.
  • 1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Sumber:
  1. Soekmono, R. DR., Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1973.
  2. Ismail Kusmayadi, “Harta Karun Itu Bernama Candi Borobudur”, Pikiran Rakyat Cyber Media, Sabtu, 02 Juli 2005.
  3. Soekmono, R. DR., Candi Borobudur - Pusaka Budaya Umat Manusia , Jakarta: Pustaka Jaya, 1978.
  4. Berbagai sumber lain:

Thursday, April 8, 2010

Candi Prambanan


Peninggalan Hindhu terbesar di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini terletak lebih kurang 17 kilometer disebelah timur laut Yogyakarta.
Candi Prambanan merupakan komplek percandian dengan candi induk menghadap ke arah timur , dengan bentuk secara keseluruhan menyerupai gunungan pada wayang Kulit setinggi 47 meter.
Agama Hindhu mengenal Tri Murti yang terdiri dari Dewa Brahma sebagai Sang Pencipta, Dewa Whisnu sebagai Sang Pemelihara, Dewa Shiwa sebagai Sang Perusak. Bilik utama dari candi induk ditempati Dewa Shiwa sebagai Maha Dewa sehingga dapat disimpulkan bahwa candi Prambanan merupakan candi Shiwa.

Pada dinding pagar langkan candi Siwa dan candi Brahma dipahatkan relief cerita Ramayana , sedangkan pada pagar langkah candi Wisnu dipahatkan relief Krisnayana yang sangat indah. masuk candi Siwa dari arah timur belok ke kiri akan anda temukan relief cerita Ramayana tersebut searah jarum jam, relief cerita selanjutnya bersambung di candi Brahma.

Sejarah

Candi Prambanan dikenal kembali saat seorang Belanda bernama C.A.Lons mengunjungi Jawa pada tahun 1733 dan melaporkan tentang adanya reruntuhan candi yang ditumbuhi semak belukar. Usaha pertama kali untuk menyelamatkan Candi Prambanan dilakukan oleh Ijzerman pada tahun 1885 dengan membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu. Pada tahun 1902 baru dimulai pekerjaan pembinaan yang dipimpin oleh Van Erp untuk candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma. Perhatian terhadap candi Prambanan terus berkembang. Pada tahun 1933 berhasil disusun percobaan Candi Brahma dan Wisnu. Setelah mengalami berbagai hambatan, pada tanggal 23 Desember 1953 candi Siwa selesai dipugar. Candi Brahma mulai dipugar tahun 1978 dan diresmikan 1987. Candi Wisnu mulai dipugar tahun 1982 dan selesai tahun 1991. Kegiatan pemugaran berikutnya dilakukan terhadap 3 buah candi perwara yang berada di depan candi Siwa, Wisnu dan Brahma besarta 4 candi kelir dan 4 candi disudut / patok.

Candi-Brahma

Candi Prambanan merupakan kelompok candi yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Sanjaya pada abad IX. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada candi menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti berangka 856 M “Prasasti Siwargrarha” sebagai manifest politik untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar.Prasasti Siwargrarha tahun 856 M yang dikeluarkan oleh Rakai Pikatan tidak diketahui asalnya, kini disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Prasasti ini mulai menarik perhatian setelah J.G. De Casparis berhasil menguraikan dan membahasnya. Menurut Casparis ada 3 hal penting dalam prasati tersebut, yaitu: Bahasanya merupakan contoh tertua prasasti yang berangka tahun yang ditulis dalam puisi Jawa kuna; Isinya memuat bahan-bahan atau peristiwa-peristiwa sejarah yang sangat penting dari pertengahan abas ke IX M; Didalamnya terdapat uraian yang rinci tentang suatu “gugusan candi”, sesuatu yang unik dalam epigrafi Jawa kuna.Dari uraian diatas yang menarik adalah peristiwa sejarah dan uraian tentang pembangunan gugusan candi. Peristiwa sejarah yang dimaksud adalah peperangan antara Balaputeradewa dari keluarga Sailendra melawan Rakai Pikatan dari keluarga Sanjaya. Balaputeradewa kalah dan melarikan diri ke Sumatera. Konsolidasi keluarga raja Rakai Pikatan itu kemudian menjadi permulaan dari masa baru yang perlu diresmikan dengan pembangunan suatu gugusan candi besar.

Candi Prambanan atau Candi Shiwa ini juga sering disebut sebagai candi Roro Jonggrang berkaitan dengan legenda yang menceriterakan tentang seorang dara yang jonggrang (jangkung) yang adalah putri Prabu Boko. Bagian tepi candi dibatasi dengan pagar langkan yang dihiasi dengan relief cerita Ramayana yang dapat dinikmati dengan ber-pradaksina (berjalan mengelilingi candi dengan pusat candi selalu di sebelah kanan kita) melalui lorong itu.

Candi-Prambanan

Kompleks candi Prambanan dibangun oleh Raja-raja Wamca (Dinasty) Sanjaya pada abad ke-9. Candi Prambanan merupakan kompleks percandian dengan candi induk menghadap ke timur, dengan bentuk secara keseluruhan menyerupai gunungan pada wayang kulit setinggi 47 meter. Agama Hindu mengenal Tri Murti yang terdiri dari Dewa Brahma sebagai Sang Pencipta, Dewa Wisnu sebagai Sang Pemelihara, Dewa Shiwa sebagai Sang Perusak. Bilik utama dari candi induk ditempati Dewa Shiwa sebagai Maha Dewa sehingga dapat disimpulkan candi Prambanan merupakan candi Shiwa. Candi Prambanan atau candi Shiwa ini juga sering disebut sebagai candi Loro Jonggrang berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis yang jangkung, putri Prabu Boko, yang membangun kerajaannya diatas bukit di sebelah selatan kompleks candi Prambanan.

Bagian tepi candi dibatasi dengan pagar langkan, yang dihiasi dengan relief Ramayana yang dapat dinikmati bilamana kita berperadaksina (berjalan mengelilingi candi dengan pusat cansi selalu di sebelah kanan kita) melalui lorong itu. Cerita itu berlanjut pada pagar langkan candi Brahma yang terletak di sebelah kiri (sebelah selatan) candi induk. Sedang pada pagar langkan candi Wishnu yang terletak di sebelah kanan (sebelah utara) candi induk, terpahat relief cerita Kresnadipayana yang menggambarkan kisah masa kecil Prabu Kresna sebagai penjelmaan Dewa Wishnu dalam membasmi keangkaramurkaan yang hendak melanda dunia.

arca-ganesha

Bilik candi induk yang menghadap ke arah utara berisi parung Durga, permaisuri Dewa Shiwa, tetapi umumnya masyarakat menyebutnya sebagai patung Roro Jonggrang, yang menurut legenda, patung batu itu sebelumnya adalah tubuh hidup dari putri cantik itu, yang dikutuk oleh ksatria Bandung Bondowoso, untuk melengkapi kesanggupannya menciptakan seribu buah patung dalam waktu satu malam.

Candi Brahma dan candi Wishnu masing-masing memiliki satu buah bilik yang ditempati oleh patung dewa-dewa yang bersangkutan.

Dihadapan ketiga candi dari Dewa Trimurti itu terdapat tiga buah candi yang berisi wahana (kendaraan) ketiga dewa tersebut. Ketiga candi itu kini sudah dipugar dan hanya candi yang ditengah ( di depan candi Shiwa) yang masih berisi patung seekor lembu yang bernama Nandi, kendaraan Dewa Shiwa.

Patung angsa sebagai kendaraan Brahma dan patung garuda sebagai kendaraan Wishnu yang diperkirakan dahulu mengisi bilik-bilik candi yang terletak di hadapan candi kedua dewa itu kini telah dipugar.

Keenam candi itu merupakan 2 kelompok yang saling berhadapan, terletak pada sebuah halaman berbentuk bujur sangkar, dengan sisi sepanjang 110 meter.

Didalam halaman masih berdiri candi-candi lain, yaitu 2 buah candi pengapit dengan ketinggian 16 meter yang saling berhadapan, yang sebuah berdiri di sebelah utara dan yang lain berdiri di sebelah selatan, 4 buah candi kelir dan 4 buah candi sedut.


Pemugaran dan Perbaikan

Terjadinya perpindahan pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya candi-candi di daerah Prambanan, kondisi ini semakin parah dengan terjadinya gempa bumi dan beberapa kali meletusnya Gunung Merapi yang menjadikan candi Prambanan runtuh dan meninggalkan puing-puing batu yang berserakan. Candi Prambanan dikenal kembali saat seorang Belanda bernama C.A.Lons mengunjungi Jawa pada tahun 1733 dan melaporkan tentang adanya reruntuhan candi yang ditumbuhi semak belukar.

Usaha pertama kali untuk menyelamatkan candi Prambanan dilakukan oleh Ijzerman pada tahun 1885 dengan membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu. Pada tahun 1902 dimulai pekerjaan pembinaan yang dipimpin oleh Van Erp untuk candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma. Perhatian terhadap candi Prambanan terus berkembang. Pada tahun 1933 berhasil disusun percobaan candi Brahma dan Wisnu. Setelah mengalami berbagai hambatan pemugaran diselesaikan oleh bangsa Indonesia, tanggal 23 Desember 1953 candi Siwa selesai dipugar dan secara resmi dinyatakan selasai oleh Presiden Dr. Ir. Sukarno.

Pemugaran candi di wilayah Prambanan terus dilaksanakan, diantaranya yaitu pemugaran candi Brahma dan candi Wisnu. Pemugaran candi Brahma dimulai pada tahun 1977 dan telah selesai dan diresmikan oleh Prof Dr. Haryati Soebandio tanggal 23 Maret 1987. Candi wisnu mulai dipugar pada tahun 1982 selesai dan diresmikan oleh Presiden Soeharto tanggal 27 April 1991. Kegiatan pemugaran berikutnya dilakukan terhadap 3 buah candi yang berada di depan candi Siwa, Wisnu dan Brahma besarta 4 candi kelir dan 4 candi disudut.

Halaman dalam yang dianggap masyarakat Hindu sebagai halaman paling sacral ini, terletak di tengah halaman tengah yang mempunyai sisi 222 meter, dan pada mulanya berisi candi-candi perwara sebanyak 224 buah berderet-deret mengelilingi halaman dalam 3 baris.

Sunday, April 4, 2010

Beringharjo Market

EENDER MOOISTE PASSER OP JAVA "or one of the most beautiful markets in Java is not an exaggeration to call Beringharjo. Markets are constructed of reinforced concrete in the form and shape are familiar with tropical architecture is also the oldest market of its existence has a historical and philosophical values that can not separated by a court of Yogyakarta.

The market was initially a rather broad field, muddy and a bit muddy, and too many banyan trees, south-east (non-permanent buildings) is a former cemetery of the Dutch people. This place is officially used as a venue for meeting people by being appointed by the Sultan of Yogyakarta in 1758. After that people started to utilize the established shade "payon-payon" as heat and rain.
over time, the Government deems it necessary to build a representative and reasonable market as the central market in Yogyakarta. Concrete Indisch Nederlansch Maatschapij-los los commissioned to build the market on March 24, 1925. In late August 1925, 11 kiosks have been resolved, and then others followed gradually. At the end of March 1926, market development is completed and began to be used a month after that.

Traditional markets continue to grow is built on the land area of 2.5 hectares and the rehabilitation experience two times in the year 1951 and 1970. Along with the development of times and the government, it Beringharjo were taken over by the city of Yogyakarta.

Beringharjo market offered
The front and rear of the building west of the market is the perfect place to indulge tongue with snacks. In the north of the front, can be found brem round with a softer texture than Madison and krasikan brem (such dodol from rice flour, sugar Java, and crushed sesame seeds). In the south, can be found bakpia contents of green beans are usually sold still warm and moist cake like hung kwe and nagasari. While the rear of a comestible generally sell durable like ting-ting made of caramel, mixed nuts.

If you want to buy batik, Beringharjo is the best place for a complete collection of batik. From batik fabrics and ready-made garments, raw cotton to silk, and the price of tens of thousands to nearly a million available in this market. Collection of batik cloth found in the western part of the market stalls to the north. While the collection of batik clothes were found in almost all western markets. In addition to batik clothes, western part of the market stalls also offer clothes surjan, blangkon, and weaving and batik sarong. Sandals and handbags are sold at low prices can be found around the western part of the escalator market.

Walk to the second floor of the eastern part of the market, do not be surprised if the scent of herbs. It was a basic ingredient of herbal medicine sales center of Java and spices. Herbal ingredients such as turmeric sold commonly used to make sour turmeric and turmeric are used to make herbal medicine known to be very bitter. Spices offered is ginger (usually processed into round of drinks or just baked, boiled and mixed with rock sugar) and wood (used to enrich the flavor of beverages such as wedang ginger, coffee, tea, and sometimes used instead of chocolate powder on cappuccino).

This market is also a great place to hunt for antiques. Antique sales center located at 3rd floor of the eastern markets. There, you can find an old typewriter, a helmet made in the 60's whose front has limited mica nose and so forth. On the same floor, you can hunt for quality used items if you want. Various kinds of imported used goods such as shoes, bags and even clothing are sold at a price far cheaper than the original price is still good quality. Sure need foresight to choose.
Satisfied around the inside of the market, it was time to explore the area around the market with bids that are not less interesting. Market Lor area formerly known as Kampong Chinatown is the most famous region. You can find the tapes from musicians oldies 50s are rarely found in other places with the most expensive price of USD 50000.00. Also, there is also a statue of Buddha in the form of metal craft in various positions for Rp 250.000,00. For collectors old money, this place also sells old currency from various countries, even those used in the 30's.

If thirsty, drink ice cendol is typical of Yogyakarta is the apt choice. Ice cendol Yogyakarta has a richer flavor than ice cendol Banjarnegara and Bandung. It contained not only cendol, but also cau cam (a kind of jelly made from the leaf cam cau) and white cendol made from rice flour. Other drinks available is coconut ice with sugar syrup and herbs such as turmeric java acidic and galingale rice. Drink prices were not expensive, only around Rp. 1000 to Rp. 2000.

Thursday, March 18, 2010

Pit Onthel


Sepeda adalah sebuah alat transportasi roda dua yang dijalankan tenaga manusia. Sepeda pertama kali dibuat di negara Prancis pada 1791. Pada tahun 1817 Baron Von Drais de Sauerbrun membuat sepeda kayu tanpa pedal yang pertama. Sepeda ini disebut Hobby Horse (sepeda kuda-kudaan). Dan pada 1839 sepeda memakai pedal pertama kali digunakan, namun bentuknya juga sangat lucu, karena roda depan besar sementara roda belakang kecil. Sehingga cara memakainya pun dibutuhkan keterampilan akrobatik.

Sepeda telah hadir di masyarakat Indonesia sejak akhir abad ke-19.Masuknya sepeda-sepeda tersebut tentu tak lepas dari peran Belanda yang menjajah Indonesia. Pada zaman penjajahan sampai dengan sekitar 1970, sepeda onthel adalah alat transportasi favorit di kawasan perkotaan. Sepeda yang dipakai para kolonial kala itu dibawa dari negara asalnya. Baru setelah itu sepeda mulai dipakai para bangsawan, para misionaris dan saudagar kaya.

Di pedesaan, sepeda onthel merupakan barang mewah. Hanya pejabat, orang kaya, atau kaum bangsawan tersebutlah yang mempunyai sepeda onthel. Merek sepeda onthel yang dipakai pada saat itu menentukan derajat ekonomi pemakainya. Sebagai contoh, sepeda ontheldengan merek Gazelle dan Simplex merupakan sepeda yang dipakai golongan atas. Golongan dibawahnya kebanyakan memakai merek Batavus, Philips, Raleigh, Fongers, Humber, dan lain-lain.

Fiets, begitu para kolonial ini menyebut (menamakan) sepeda. Namun, karena lidah Jawa tak fasih, orang lantas menyebut dengan “pit”.

Sementara onthel dimaksudkan mengayuh, jadi sepeda onthel ini artinya sepeda yang di kayuh.

Menginjak 1970, keberadaan sepeda onthel buatan Eropa, Belanda, dan Inggris mulai digantikan buatan China merek Phoenix.
Jenis sepeda Phoenix yang sangat laku saat itu adalah jenis Jengki, selain bentuk fisik sepeda yang sesuai dengan orang Indonesia, harganya pun relatif terjangkau. Pada 1980-an, jenis sepeda yang paling diminati masyarakat adalah jenis sepeda federal atau sepeda gunung (MTB) selain bentuknya yang lebih sporty, juga ada yang dilengkapi dengan pengatur kecepatan sehingga memudahkan pengendaranya untuk mengayuh sepeda sesuai dengan medan yang dilewati.
Harga dan merek sepeda MTB sangat bervariasi. Di tahun tersebut sepeda benar-benar merupakan alat transportasi terbanyak yang dipakai masyarakat Indonesia dari semua golongan. Hal ini terbukti dengan sering dan banyaknya acara-acara funbike yang diselenggarakan di berbagai daerah dan diikuti ratusan atau bahkan ribuan peserta. Hingga kini sepeda MTB masih bertahan dengan teknologi yang terus dikembangkan, terutama peningkatan kualitas materialnya. Contohnya, sekarang ini dapat dijumpai sepeda MTB dengan bahan serat karbon sehingga kuat dan ringan. Tentu untuk menebusnya diperlukan kocek yang lumayan banyak. Dengan kondisi demikian, pengendara sepeda MTB dengan pakaian khusus bersepeda yang sering kita jumpai dijalan, rata-rata golongan menengah ke atas karena sepeda yang mereka pakai berharga di kisaran Rp2 juta ke atas.

Sumber:

http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzE4Nzg=
http://sang-pemulung.blogspot.com/2007_10_01_archive.html
http://iwanul.wordpress.com/category/uncategorized/

Sunday, March 14, 2010

Kerajinan Genteng Godean



Sekarang ini telah mulai bermunculan industri-industri genteng yang berbahan baku bukan dari tanah liat, hal ini terlihat dari iklan di televisi dan surat kabar yang menawarkan genteng dari bahan baku semen ataupun semacam plastik. Produk ini sepertinya belum begitu berpengaruh terhadap perindustrian genteng di wilayah godean, dimana industri genteng yang berskala kecilpun masih tetap jalan dan bermunculan.

Industri yang mengolah tanah liat sebagai salah satu jenis kerajinan yang banyak diusahakan oleh rakyat di pedesaan Jawa telah lama dikenal masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan bukti-bukti arkeologis dengan diketemukannya benda-benda dari tanah liat yang merujuk pada zaman pengaruh Hindu, Budha maupun Islam. Keahlian dalam membuat barang-barang dari tanah liat telah dilakukan di sebagian besar wilayah Asia Tenggara yang berkembang di daerah-daerah terpencil. Ramainya perniagaan laut dan sungai telah mendorong berkembangnya keahlian produksi bagi semua barang kerajinan seperti gerabah, logam dan emas. Desa-desa yang sepenuhnya hanya mengerjakan kerajinan pecah belah dari tanah liat adalah daerah yang relatif dekat dengan bahan mentah terpentingnya.[1]

Di pedesaan Jawa, industri kecil maupun kerajinan rumah tangga sangat besar pengaruhnya dalam menyerap tenaga kerja, mengingat semakin kecilnya kesanggupan sektor pertanian dalam menampung tenaga kerja.[2] Semakin banyak angkatan kerja di pedesaan yang mengalihkan kegiatannya dari sektor pertanian ke sektor non pertanian. Dengan berkurangnya kesempatan kerja di sektor pertanian bagi penduduk pedesaan akan mendorong mereka untuk mencari pekerjaan di luar sektor pertanian.

Beberapa faktor yang sangat penting dalam sektor industri adalah keberadan tenaga kerja, modal dan teknologi. Tenaga kerja mempunyai peranan penting dalam pembentukan struktur sosial masyarakat di wilayah industri, terutama tenaga kerja yang berasal dari luar daerah. Beberapa faktor tersebut yang kemudian membentuk suatu hubungan antara para pekerja dengan pengusaha.

Perluasan kesempatan kerja merupakan salah satu sasaran dari pembangunan ekonomi, atau dengan kata lain menekan jumlah pengangguran. Menurut Sugito Harjosukarto, dilihat dari sudut pasar tenaga kerja terdapat dua kekuatan yang akan menentukan luas kesempatan kerja. Pertama, dari segi penawaran, hal ini akan ditentukan oleh jumlah dan kualitas tenaga kerja. Pertambahan jumlah tenaga kerja terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk, sedang kualitasnya antara lain ditentukan oleh tingkat pendidikan dan teknologi. Kedua, dari segi permintaan, ini akan ditentukan oleh kapasitas atau daya serap daripada ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Ketidakseimbangan antara kedua kekuatan pasar tenaga kerja tersebut akan menimbulkan persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan, dimana gejala yang sering timbul dari ketidak seimbangan ialah pengangguran.[3]

Salah satu wilayah yg mengembangkan industri kerajinan di Yogyakarta ialah Godean. Godean merupakan sebuah kota kecamatan yg merada di sebelah barat Kota Yogyakarta, masuk dalam lingkup Kabupaten Sleman. Di wilayah Godean kerajinan membuat genteng muncul sejak tahun 1930-an, yg pada awalnya usaha ini hanya digeluti oleh beberapa orang saja. Antara tahun 1930-1960-an bisa dikatakan bahwa pengerjaan genteng masih sangat sederhana yang kmdn menghasilkan genteng dg sebutan “genteng plam”. Pada masa ini bahan baku masih diambil dari perbukitan sekitar dengan cara “disunggi” atau dipikul. Usaha genteng di godean ini pada awalnya hanya terdapat disatu dusun saja dan pada waktu itu hanya ada satu jenis yang dinamakan genteng “asto gino”.[4] Pada perkembangan sekarang ini, daerah Godean telah menjadi sentra industri genteng yang memproduksi beberapa jenis genteng, baik yang untuk konsumsi sendiri maupun dipasarkan.

Sekarang ini, tepatnya di Dusun Sidoluhur mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai pengrajin genteng, meskipun ada beberapa orang yang masih memelihara tanah persawahan. Dalam menjalankan usahanya, para pengrajin tersebut berfungsi ganda, selain sebagai pengusaha mereka juga berfungsi sebagai pekerja, tetapi mereka juga sering mempekerjakan orang lain sebagai buruh, baik orang itu berasal dari wilayah setempat ataupun para pendatang.

[1] Anthony Reid, Asia Tenggara DalamKurun Niaga 1450-1680. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1997) hlm. 18.

[2] Masri Singarimbun dan D.H. Penny, Penduduk dan Kemiskinan Kasus Sriharjo di Pedesaan Jawa. (Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1976), hlm. 43-45.

[3] Sugito Harjosukarto, “Perbandingan Konsep ‘Tenaga Kerja’ dan ‘Mencari Nafkah’ Dari Dua Survey Di Yogyakarta, 1976”. Cakrawala no.4 th XI Triwulan IV 1979, Semarang: Satya Wacana. Hlm. 39.

[4] Genteng ini merupakan binaan ngarso dalem yang pada waktu itu (kurang jelas tahun berapa) datang ke padukuhan berjo. Wawancara dengan bapak Sutoyo pada tanggal 12 Mei 2006.

Awal Penyebaran Islam di Jawa

Proses penyebaran dan perkembangan awal Islam di berbagai wilayah di Indonesia melalui berbagai cara yang dapat diterima oleh masyarakat. Agama Islam dengan mudah dapat diterima oleh bangsa Indonesia, hal ini tidak terlepas dari peran pedagang, perkawinan, pendidikan dan peran ulama. Pada awalnya perdagangan dan perkawinan merupakan jalan utama masuknya Islam ke Indonesia. Para pedagang yg datang ke Indonesia tidak membawa serta keluarganya, mereka kemudian menikah dengan orang pribumi dan mengislamkannya, begitulah pola-pola yang terjadi kemudian antara para saudagar kawin dengan orang lokal tersebut, mereka ikut mengembangkan bentuk masyarakat Islam terutama di pantai-pantai kepulauan Indonesia.
Diantara kedua faktor diatas, pengembangan Islam awal tidak lepas dari peran ulama yang melakukan dakwah di Indonesia. Para ulama tersebut melakukan dakwah dengan pendekatan sosial budaya, mereka menggunakan budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam didalamnya, atau dengan kata lain disebut akulturasi, misalnya upacara sekaten sebagai peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di Kraton Surakarta dan Jogjakarta. Kesenian wayang yang masih dilestarikan tetapi sudah dialiri nafas Islam. Contoh lainnya ialah Bustanus Salatina dari Aceh, Hikayat Banjar, dan serat Sana Sunu. Selain dengan akulturasi, penyiaran Islam juga mencampurkan antara kepercayaan Islam dengan kepercayaan lain, baik itu Budha, Hindu ataupun Dinamisme dan Animisme yang sangat kental di Indonesia.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.

Daftar Pustaka :
Akbar S. Ahmed. 2003. Rekonstruksi Sejarah Islam: Ditengah pluralitas agama dan peradaban. Jogjakarta: Fajar Pustaka Baru.
H.J. De Graaf dan TH. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Kuntowijoyo. 1985. Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia. Jogjakarta: Shalahudin Press.
Karen Amstrong. 2003. Islam: Sejarah Singkat. Jogjakarta: Jendela.
Slamet Muljana. 1968. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Jakarta.
http://syafii.wordpress.com/2007/05/11/sejarah-islam-di-indonesia/

Friday, March 12, 2010

Tamansiswa Wadah Intelektualitas awal Abad XX


Perguruan Tamansiswa melalui pendidikan ingin membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan yang dirasa telah sangat menekan rakyat. Perguruan Tamansiswa ini berhaluan anti kolonialisme, hal ini tercermin dalam tujuan pendidikan nasional Tamansiswa. Salah satu tujuan Tamansiswa ialah untuk menjadikan anak didik berjiwa merdeka lahir batin, luhur akal budi serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab.[1]

Pendidikan yang ada di Indonesia pada masa kebangkitan nasional sangat didominasi oleh sistem pendidikan kolonial. Dimana dalam pengajaran itu menggunakan budaya-budaya barat yang sangat tidak sesuai dengan budaya-budaya lokal yang ada. Regering, tucht, dan orde (perintah, hukuman dan ketertiban) ialah yang menjadi dasar-dasar pendidikan Barat.[2] Sehingga rakyat merasa sangat ditekan oleh kebijakan pemerintah kolonial ini. Ditambah lagi dengan biaya yang dibebankan bagi pelajar sangat tinggi.

Adanya kebutuhan akan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat makin lama semakin bertambah besar. Pada zaman Belanda hal ini sebenarnya sudah tampak, walaupun hanya ada di kota-kota.

Sejak adanya politik etis, maka di daerah Hindia Belanda diperkenalkan suatu sistem pendidikan Barat, tetapi pemerintah hanya menyediakan dalam jumlah kecil, sehingga kebutuhan pendidikan sangat kurang. Pada masa ini, pendidikan hanya diberikan kepada sebagian kecil rakyat yang kelak dipersiapkan menjadi pelayan-pelayan dalam usahanya para kolonisator.[3] Mengingat pada waktu itu yang dibutuhkan pemerintah Hindia Belanda ialah tenaga kerja murah.

Berdirinya Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 ini menjadi awal baru perjuangan Indonesia melalui pendidikan. Taman Siswa kemudian berkembang menjadi wadah intelektualitas masyarakat yang peduli akan nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan.

[1]Hariyadi, Sistem Among: Dari Sistem Pendidikan ke Sistem Sosial. (Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa, 1985), hlm. 22.

[2] Madjelis Luhur Taman Siswa, Karya Ki Hajar Dewantara. (Yogyakarta: Madjelis Luhur Taman Siswa, 1961) , hlm. 13.

[3] ibid. hlm. 215

Thursday, March 11, 2010

Melting Pot

Pluralitas atau kebhinekaan bangsa ini adalah suatu realitas faktual dan empiris-historis. Oleh karena itu, bangunan unitarisme tidak akan utuh tanpa mengedepankan nation building. Itu berarti bangsa ini dibangun dalam perspektif multikulturalisme dalam segala dimensinya, baik sosial, budaya, ekonomi, religius, maupun etnik. Ternyata, dalam pekembangannya, yang lebih ditekankan adalah state building. Yang lebih dikembangkan adalah dimensi politik kenegaraan saja. Berbagai kebijakan dan wacana dilontarkan untuk mengukuhkan bangunan negara kesatuan dengan menghancurkan berbagai kekhasan kultur lokal dan etnik.
Indonesia adalah sebuah negara dan bangsa yang tersusun dan terbangun di atas beragam etnis, suku, budaya, religiositas, dan sistem nilai. Itulah realitas faktual yang secara empiris tak mungkin ditampik entah dengan kepentingan apa pun. Itu di satu sisi. Di sisi lain, ada “realitas imajiner” yang sering kita sebut “idealisme” yaitu “membayangkan” Indonesia sebagai satu entitas utuh tak terbagi dan terpecah. Dikukuhkanlah moto “Bhineka Tunggal Ika” menjadi semacam jembatan ajaib menghubungkan dua jenis realitas tersebut.
Akan tetapi, entah tercerahi oleh filosofi apa, atau barangkali karena yang diperjuangkan itu memang merupakan masalah hakiki dari hakikat kemanusiaan, aspirasi itu bukannya lenyap tetapi malah semakin bergaung. Sejarah bangsa ini mencatat betapa negara selalu sibuk menghadapi berbagai tuntutan agar jati diri suatu entitas budaya dan teritori tertentu diakui eksistensinya. Ada yang menginginkan kemerdekaan dalam arti penuh sebagai sebuah negara sendiri, ada yang menginginkan otonomi dalam pengertian internal self-government tetapi tetap dalam koridor kesatuan, ada pula yang menuntut federalisme. Tuntutan seperti itu semakin mengemuka seiring hembusan globalisasi yang membawa paradoks. Di satu sisi globalisasi membuat dunia ini mengerucut menjadi sebuah “desa besar” karena batas-batas dan sekat baik wilayah, politik, maupun kultur runtuh, tetapi di sisi lain berbagai ranah etnonasional dalam segala bentuknya itu justru semakin menemukan bentuk dan model ideal eksistensinya. Pada tingkat lokal, geliat kebangkitan besar-besaran gerakan etnonasional seperti itu mendapatkan tenaga tambahan berkat gerakan reformasi.
Berdasarkan paparan singkat di atas, kita bisa menemukan minimal dua permasalahan yang relevan diajukan di sini. Pertama, bagaimanakah kita (Negara) menyikapi kecenderungan etnonasionalisme yang merupakan konsekuensi atau ungkapan dari keanekaragaman budaya dan identitas? Dalam tulisan ini kami mencoba menjawab permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan dan perspektif multikulturalisme.
Untuk itu, kami mengurai dan membagi tulisan ini atas empat bagian. Pada bagian pertama, kami memaparkan apakah perspektif multikulturalisme itu sebenarnya, apa bedanya dengan pendekatan “masyarakat majemuk” dan pendekatan lainnya. Intinya, di sini kami melakukan penjernihan konsep dan istilah.

Paradigma Multikulturalisme
Multikulturalisme pada mulanya adalah terminologi dalam disiplin antropologi. Tetapi, sebagaimana lazimnya, istilah dan konsep dalam sebuah cabang ilmu kemudian digunakan juga dalam cabang ilmu lain dengan makna dan tujuan yang tentu saja sudah bergeser. Hal yang sama juga berlaku pada terminologi “otonomi” yang pada mulanya bermakna filosofis-eksistensial kemudian lebih kerap digunakan dalam pengertian politik. Maka penjernihan istilah dan konsep sangat perlu untuk menghindari bias pemahaman. Multikulturalisme adalah sebuah perangkat analisis terhadap realitas kebudayaan sebagai pilihan lain di luar beberapa pendekatan seperti asimilasionisme dan diferensialisme, atau mengikuti Giddens (1995), asimilasionisme dan melting pot.
Masyarakat majemuk (plural society) berbeda dengan keragaman budaya atau multikulturalitas (plural cultural). Masyarakat majemuk lebih menekankan soal etnisitas atau suku bangsa yang pada gilirannya membangkitkan gerakan etnosentrisme dan etnonasionalisme. Sifatnya sangat askriptif dan primordial. Bahaya chauvinisme sangat potensial. Karena wataknya yang sangat mengagungkan ciri stereotip kesukubangsaan, anggotanya memandang masyarakat lain dengan cara pandang seperti itu juga. Masyarakat majemuk dengan demikian selalu mengeram konflik dalam dirinya yang setiap saat siap memanifes baik secara halus lewat kata-kata sindiran maupun secara kasar melalui tindakan kekerasan.
Berbeda dengan konsep dan perspektif masyarakat majemuk, konsep kulturalisme memang mengagung-agungkan perbedaan bahkan menjaganya laksana untaian aneka ratna mutu manikam. Tetapi, ia tidak berhenti di situ. Perspektif ini memandang hakikat kemanusiaan sebagai sesuatu yang universal dan oleh karenanya sama. Tetapi ketika bicara soal cara hidup (way of life), aturan berpikir (rule of thinking), dan pendirian atau prinsip hidup (state of mind), multikulturalisme justru melihat bahwa sungguh tidak adil kalau realitas keanekaan itu dinafikan entah dengan cara apa pun. Perbedaan dipandang sebagai kesempatan untuk memanifestasikan hakikat sosial dan sosiabilitas manusia dengan dialog dan komunikasi. Masyarakat yang hidup dalam perspektif ini sangat mementingkan dialektika yang kreatif.
Watak masyarakat multikulturalis adalah toleran. Mereka hidup dalam semangat peaceful co-existence, hidup berdampingan secara damai. Setiap entitas sosial dan budaya masih tetap membawa serta jati dirinya, tidak terlebur kemudian hilang, tetapi juga tidak diperlihatkan sebagai kebanggaan melebihi penghargaan terhadap entitas lain. Dalam perspektif multikulturalisme ini, baik individu maupun kelompok dari berbagai entitas etnik dan budaya hidup dalam societal cohesion tanpa kehilangan identitas etnik dan kultur mereka. Masyarakat bersatu dalam ranah sosial tetapi antar-entitas tetap ada jarak. Prinsipnya, aku bisa bersatu dengan engkau, tetapi antara kita berdua tetap ada jarak. Aku hanya bisa menjadi aku dalam arti sepenuhnya dengan “menjadi satu dengan engkau”, begitu sebaliknya, tetapi tetap saja antara aku dan engkau ada jarak. Jarak itu harus kita jaga dengan komunikasi, dialog dan toleransi yang kreatif.
Multikulturalisme adalah sebuah perspektif alternatif untuk mengatasi pertentangan dan konflik sosial bernuansa etnis, agama, ras dan berbagai identitas primordial lainnya. Selain pendekatan ini terdapat beberapa pendekatan lain yang hemat kami perlu diuraikan di sini secara sepintas. Dengan membandingkan multikulturalisme dengan pendekatan lain tersebut – selain dengan konsep “masyarakat majemuk yang telah diuraikan di atas – kita bisa memperoleh gambaran apakah multikulturalisme memang lebih unggul atau ideal untuk digunakan sebagai perangkat analisis.
Menurut Anthony Giddens (Sociology, 1995), terdapat tiga model pendekatan untuk pengembangan relasi etnik (atau entitas lain) di masa depan, yaitu asimilasi, melting pot, dan pluralisme kultural (multikulturalisme). Pembagian yang mirip dengan ini digambarkan oleh Maria Hartiningsih (Kompas, 14 Maret 2001) dan Profesor Parsudi Suparlan (Media Indonesia, 10 Desember 2001) yaitu asimilasionisme, diferensialisme, dan multikulturalisme. Dalam pendekatan asimilasionisme, terdapat pemilahan atas mayoritas dan minoritas. Minoritas melebur ke dalam mayoritas. Semua karakteristik khas yang melekat dalam entitas minoritas kemudian hilang ditelan karakteristik mayoritas. Di sinilah mitos pengorbanan menemukan pembenarannya. Asumsinya, dengan pembauran tersebut konflik dapat diredam.
Berbeda dengan asimilasionisme yang menyuburkan hegemoni mayoritas, pendekatan diferensialisme justru membiarkan semua entitas itu tumbuh. Tetapi, kontak, komunikasi, dialog sama sekali dihapus atau dihilangkan. Tak ada ruang untuk interaksi sosial. Konflik dihindari bukan dengan melenyapkan salah satu entitas, tetapi dengan membangun tembok tinggi antara berbagai entitas tersebut. Masyarakat dikotak-kotakkan. Contoh empiris yang menyajikan ekses ekstrem pendekatan seperti ini adalah politik apartheid di Afrika Selatan pra-Mandela. Kejahatan genosida dan pembersihan etnis (ethnic cleansing) juga mendapatkan pembenarannya di atas konsep seperti ini.
Sementara, yang dimaksudkan dengan melting pot adalah pencampuran berbagai kebudayaan atau entitas melebur menjadi sesuatu yang baru. Kita bisa menganalogikan konsep ini dengan konsep “senyawa” dalam ilmu kimia. Misalnya, unsur H (hidrogen) direaksikan dengan unsur O (oksigen) dengan ukuran (dalam ilmu kimia diistilahkan “moll”) tertentu akan menghasilkan H2O yang sering kita sebut sebagai air. Ia lebih dari sekadar sebuah larutan (misalnya larutan air dan gula yang kedua unsurnya masih bisa dirasakan kendati sudah menyatu), apa lagi dari sekadar campuran (misalnya tanah dan air dicampur, di mana kedua unsurnya tidak menyatu dan sangat mudah dipilah dan dibedakan). Dalam sejarah dunia, kita mengenal adanya kebudayaan Helenisme zaman Aleksander Agung yang merupakan persenyawaan kebudayaan Yunani dengan kebudayaan wilayah-wilayah taklukannya. Giddens mencontohkan kebudayaan Anglo Amerika untuk menggambarkan model melting pot ini.
Nyata dari berbagai pendekatan tersebut terdapat kekurangan dan kelebihan. Pendekatan multikulturalisme pun memiliki kekurangan selain kelebihan yaitu sangat rentan dengan bahaya diskriminatif, bahkan oleh orang semacam Dr. Gary Hull, pendekatan ini justru contradictio in terminis dan sarat paradoks. “Distinct but equal”, berbeda tetapi sama. Tetapi, bagaimanapun, pendekatan ini jauh lebih memadai daripada berbagai pendekatan lainnya. Giddens sendiri menganjurkan untuk memadukan ketiga pendekatan asimilasi, melting pot, dan multikultralisme, tetapi seperti apa bentuknya, belum jelas. Selain itu, kita perlu memahami bahwa kecurigaan dan keraguan terhadap multikulturalisme lebih diakibatkan oleh bergesernya wacana tersebut dari memandangnya sebagai pendekatan intelektual dan eksistensial ke pendekatan politik semata. Ketika dipandang sebagai pendekatan politik, ia tidak bisa luput dari bias. Padahal, cukup dipahami secara sederhana saja bahwa inti multikulturalisme adalah relasi makna yang saling bersentuhan untuk mencapai pemahaman yang utuh dan komprehensif atas berbagai kultur.


Sumber:
Abdul Haris Semendawai dan Eddie Sius R. Laggut. Otonomi Daerah dalam Kehidupan Multikulturalitas di Indonesia. Artikel.
\\http://www.forum-ektor.org/artikel.php?hal=3&no=25
Related Posts with Thumbnails
 

About

Text

Recycle Posts Copyright © 2009 Communityiwanul