IM

Friday, March 12, 2010

Fenomena Awal Pedagang Buku di UGM

Pada bulan-bulan pendaftaran UM UGM, Gedung Ghraha Sabha Pramana (GSP) selalu penuh sesak dengan orang-orang, baik itu para pendaftar UM-UGM maupun para penjual jasa, khususnya pedagang buku. Para penjual buku tersebut seolah tidak mau kalah dengan para pendaftar, mereka menempati emper-emper gedung GSP hingga di pinggir-pinggir jalan sekitar gedung tersebut. Seakan dimanapun mereka menggelar dagangan disitulah mereka mencari rizki. Tidak jarang ada beberapa orang yang memilih tempat-tempat yang agak menyendiri, hal ini guna menghindari persaingan diantara para pedagang. Sebab sebagian besar para pedagang tersebut selalu berebut tempat untuk mendapatkan lokasi yang strategis. Kebanyakan dari mereka memilih untuk menggelar dagangannya di sekitar pintu masuk dan pintu keluar, sehingga sering kali menambah sesak antrian para pelajar yang mau mendaftar UM-UGM.
Fenomena penjual buku-buku soal ujian masuk UGM mulai muncul di GSP sejak tahun 2003. kemunculan mereka ini beriringan dengan diselenggarakannya pendaftaran seleksi masuk UGM pertama kali. Para pedagang tersebut sebenarnya telah lama bergelut menjadi penjual buku, tapi pada awalnya mereka berjualan pada saat pendaftaran SPMB dan ujian masuk pada beberapa universitas swasta. Kemunculan mereka ini bukan begitu saja langsung terbentuk, hal ini merupakan keberlanjutan dari usaha mereka yang memanfaatkan momen-momen tertentu, salah satunya saat pendaftaran UM-UG di GSP.
Pada tahun pertama (tahun 2003) buku-buku yang dijual belum begitu bervariasi. Sebagian besar buku-buku tersebut masih berupa fotokocopy naskah yang dikemas sederhana, cukup “disteples” pada ujung kiri atasnya. Sehingga kalau dilihat dari harganyapun cukup terjangkau, sekitar Rp 15000,- hingga Rp 20.000,-. Baru pada tahun 2004 mulai muncul buku-buku bercover/yang didesain lebih menarik, terlihat juga mulai ada buku yang djilid. Harganya pun kemudian ikut menyesuaikan, berkisar antara Rp 35.000,- hingga Rp 60.000,-.
Hingga tahun 2004 penjual buku-buku soal tersebut belum begitu banyak seperti beberapa tahun terahir (2005 – 2007).
Pada tahun 2003 – 2004 para pedagang tersebut masih menempati lokasi luar gedung (tidak dibawah emperan GSP), sebab saat itu lokasi pengambilan dan pengembalian formulir berada di lantai 2, sehingga secara otomatis mereka langsung menaiki tangga disisi barat dan keluar di sisi timur.
Para siswa calon mahasiswa baru tersebut tidak diberi kesempatan untuk masuk ruang GSP lantai I, sehingga para pedagang ikut menyesuaikan menempati trotoar sekitar, di bawah pohon dan didekat pintu masuk/keluar, bahkan tak jarang dari mereka merelakan tubuhnya terbakar matahari untuk menggelar dagangannya. Berbeda dengan tahun terakhir (2005-2007) para pedagang mulai masuk/menggelar di emper dan GSP dari sisi timur terus melingkar ke barat penuh berjejer penuh para penjual buku. Hal ini karena lokasi yang digunakan oleh para calon mahasiswa ada di lantai 1 sehingga para pedagang ikut masuk emper GSP meskipun ada larangan dari satuan keamanan kampus untuk berjualan di emper.
Di th 2005 jumlah penjual buku semakin membengkak, banyak para pedagang baru. Rata-rata kehadiran mereka itu adalah ajakan dari pedagang yang berjualan lebih dulu, mereka menceritakan prospek berjualan yang bagus di GSP dan mengajak teman baru, begitulah pola umun yang terjadi di situ.
Tiap tahun buku yang di distribusikan di GSP semakin beragam, mulai dari yang menawarkan kualitas hingga kuantitas.bamyak buku yang dikemas sedemikian menarik sehingga naskah soal tahu lalu sampai fotocopian.
Para penjual buku di GSP tersebut berasal dari berbagai golongan, ada yang berasal dari masyarakat umum, pelajar hingga mahasiswa, tetapi rata-rata dari mereka adalah masyarat awam yang benar-benar ingin menambah penghasilan baik laki-laki atau perempuan mereka berjualan saling berdampingan seakan tidak ada perbedaan dalam perdagngan.

UM UGM Sebagai Lahan Bisnis

Pendidikan merupakan suatu hal yang sudah menjadi kebutuhan utama bagi setiap orang, baik itu formal maupun informal. Keduanya sangat penting bagi kehidupan, terlebih sekarang ini dimana perkembangan IPTEK sangat cepat sehingga dibutuhkan keahlian/pengetahuan bagi setiap orang. Sejak dahulu pendidikan selalu berjalan berdampingan dengan status sosial di masyarakat. Dalam masyarakat muncul anggapan/menempatkan orang terpelajar ataupun bersekolah pada tingkat sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang awam pendidikan. Maka tidak aneh bila masyarakat berduyun-duyun ingin merasakan pendidikan, selain karena dipicu faktor diatas mereka juga mempunyai motif yang beragam, misalnya memang karena murni ingin mendapatkan pendidikan, demi mendapatkan pekerjaan, paksaan dari orang tua, sekedar mendapatkan teman baru dan mengisi luang, ataupu dengan mudah dikatakan sebagai bekal masa depan.
Sejak UGM mengambil kebijakan untuk membuka seleksi peneriamaan mahasiswa baru lewat jalur UM-UGM (Ujian Masuk UGM), mulai tahun 2003 UGM memiliki dua jalur untuk seleksi masuk ke universitas tersebut, Melalui SPMB dan UM-UGM. Keberadan UM-UGM ini mendapat respon yang positif dari berbagai kalangan, baik itu dari kaum pelajar ataupun masyarakat awam. Bagi anak-anak SMA, UM-UGM tersebut menjadi pilihan utama untuk masuk ke UGM karena sempat terdengar kabar bahwa kuota penerimaan melalui jalur tersebut lebih besar dibanding dengan jalur SPMB. Selain itu, banyak juga SMA-SMA yang melakukan program kolektif untuk pengambilan formulirnya, sehingga memudahkan bagi siswanya yang akan mendaftar.
Bagi golongan masyarakat tertentu, UM-UGM ini menjadi sangat penting bagi kehidupan ekonomi mereka. Mereka memanfaatkan momen tersebut untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Banyak kemudian muncul usaha-usaha “dadakan” di sekitar tempat pendaftaran seleksi tersebut, baik mereka yang menjual jasa, makanan dan minuman, parkir, dan buku-buku latihan soal. Mereka menempati lokasi yang dianggap strategis baik itu di sekitar gedung Grhaha Sabha Pramana maupun di lokasi pendaftaran yang ada di Jln. Kinanti. Menurut asumsi saya, mereka itu ialah kaum urban yang terbentuk dari tingkat ekonomi yang lemah. Mereka muncul sesuai dengan tuntutan kebutuan mereka, tetapi selain itu kemunculan mereka juga didukung adanya kebijakan dalam bidang pendidikan. Hal ini menandakan bahwa bidang pendidikan juga berimbas pada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Bisa dikatakan bahwa penjual buku-buku soal di GSP tersebut sebagai pedagang musiman yang muncul setahun sekali saat UGM membuka pendaftaran UM-UGM. Jadi pada hari-hari biasa kita tidak akan menemukan mereka berjualan buku di tempat tersebut

Wayang Wong

Wayang Wong merupakan melodrama tradisional yang diiringi oleh gamelan yang berasal dari Jawa Tengah. Penari yang mementaskannya mebawakan berbagai karakter. Latar belakang cerita diangkat dari Cerita Ramayana dan Mahabarata. Penari membawakan tarian yang indah serta dialog untuk memceritakan jalan ceritanya.

Untuk para penari laki-laki, beberapa gerakannya adalah alus, gagah, kambeng, bapang, kalang kinantang, kasar, gecul, kambeng dengklik, dan kalang kinantang dengklik. Sedangkan gerakan para penari perempuan sering disebut nggruda atau ngenceng encot. Ada 9 gerakan dasar atau joged pokok yang ditampilkan para penari wanita serta 12 joged gubahan atau gerakan tambahan serta joged wirogo yang memperindah tarian yang ditampilkan.

Selain harus menguasai gerak atau tari wayang, suara para pemeran pun harus disesuaikan dengan peran wayang yang diperankannya. Setiap tokoh wayang memiliki patokan tersendiri mengenai gaya bicaranya. Dan ini harus sesuai dengan nada-nada tertentu sehingga tidaklah mudah menjadi pemain wayang orang. Pemain wayang orang harus pandai menari serta mempunyai perbendaharaan gerakan wayang bagi kelengkapan berperan (acting)-nya.

Di samping gerakan dan tarian serta suara yang harus sesuai, pemain wayang orang pun harus memiliki perawakan (wanda) yang sesuai dengan wanda wayang yang diperankannya yang telah ditentukan oleh patokannya sesuai dengan penggolongan dalam pewayangan. Bisa dikatakan bahwa dalam pementasan dan perlengkapan wayang wong telah mengikuti teater modern Barat, hal ini terlihat dari pentasnya yang berbentuk proscenium (satu arah) serta menggunakan layar depan, layar belakang dan seben (penyekat samping). Kemudian, pentas itu pun menggunakan setting yang merupakan layar belakang atau layar samping yang bergambar dan disesuaikan dengan yang sedang berlaku serta menggunakan tata cahaya dan tata suara seperti pentas modern Barat.
Tugas dalang wayang wong tidak jauh berbeda dengan dalang wayang kulit. Namun tugas dalang wayang wong lebih ringan karena para pelakon melakukan percakapan sendiri. Dalang wayang wong hanya menyampaikan sedikit narasi baik ketika membuka pertunjukan, di tengah pertunjukan atau di akhir pertunjukan.

Thursday, March 11, 2010

Melting Pot

Pluralitas atau kebhinekaan bangsa ini adalah suatu realitas faktual dan empiris-historis. Oleh karena itu, bangunan unitarisme tidak akan utuh tanpa mengedepankan nation building. Itu berarti bangsa ini dibangun dalam perspektif multikulturalisme dalam segala dimensinya, baik sosial, budaya, ekonomi, religius, maupun etnik. Ternyata, dalam pekembangannya, yang lebih ditekankan adalah state building. Yang lebih dikembangkan adalah dimensi politik kenegaraan saja. Berbagai kebijakan dan wacana dilontarkan untuk mengukuhkan bangunan negara kesatuan dengan menghancurkan berbagai kekhasan kultur lokal dan etnik.
Indonesia adalah sebuah negara dan bangsa yang tersusun dan terbangun di atas beragam etnis, suku, budaya, religiositas, dan sistem nilai. Itulah realitas faktual yang secara empiris tak mungkin ditampik entah dengan kepentingan apa pun. Itu di satu sisi. Di sisi lain, ada “realitas imajiner” yang sering kita sebut “idealisme” yaitu “membayangkan” Indonesia sebagai satu entitas utuh tak terbagi dan terpecah. Dikukuhkanlah moto “Bhineka Tunggal Ika” menjadi semacam jembatan ajaib menghubungkan dua jenis realitas tersebut.
Akan tetapi, entah tercerahi oleh filosofi apa, atau barangkali karena yang diperjuangkan itu memang merupakan masalah hakiki dari hakikat kemanusiaan, aspirasi itu bukannya lenyap tetapi malah semakin bergaung. Sejarah bangsa ini mencatat betapa negara selalu sibuk menghadapi berbagai tuntutan agar jati diri suatu entitas budaya dan teritori tertentu diakui eksistensinya. Ada yang menginginkan kemerdekaan dalam arti penuh sebagai sebuah negara sendiri, ada yang menginginkan otonomi dalam pengertian internal self-government tetapi tetap dalam koridor kesatuan, ada pula yang menuntut federalisme. Tuntutan seperti itu semakin mengemuka seiring hembusan globalisasi yang membawa paradoks. Di satu sisi globalisasi membuat dunia ini mengerucut menjadi sebuah “desa besar” karena batas-batas dan sekat baik wilayah, politik, maupun kultur runtuh, tetapi di sisi lain berbagai ranah etnonasional dalam segala bentuknya itu justru semakin menemukan bentuk dan model ideal eksistensinya. Pada tingkat lokal, geliat kebangkitan besar-besaran gerakan etnonasional seperti itu mendapatkan tenaga tambahan berkat gerakan reformasi.
Berdasarkan paparan singkat di atas, kita bisa menemukan minimal dua permasalahan yang relevan diajukan di sini. Pertama, bagaimanakah kita (Negara) menyikapi kecenderungan etnonasionalisme yang merupakan konsekuensi atau ungkapan dari keanekaragaman budaya dan identitas? Dalam tulisan ini kami mencoba menjawab permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan dan perspektif multikulturalisme.
Untuk itu, kami mengurai dan membagi tulisan ini atas empat bagian. Pada bagian pertama, kami memaparkan apakah perspektif multikulturalisme itu sebenarnya, apa bedanya dengan pendekatan “masyarakat majemuk” dan pendekatan lainnya. Intinya, di sini kami melakukan penjernihan konsep dan istilah.

Paradigma Multikulturalisme
Multikulturalisme pada mulanya adalah terminologi dalam disiplin antropologi. Tetapi, sebagaimana lazimnya, istilah dan konsep dalam sebuah cabang ilmu kemudian digunakan juga dalam cabang ilmu lain dengan makna dan tujuan yang tentu saja sudah bergeser. Hal yang sama juga berlaku pada terminologi “otonomi” yang pada mulanya bermakna filosofis-eksistensial kemudian lebih kerap digunakan dalam pengertian politik. Maka penjernihan istilah dan konsep sangat perlu untuk menghindari bias pemahaman. Multikulturalisme adalah sebuah perangkat analisis terhadap realitas kebudayaan sebagai pilihan lain di luar beberapa pendekatan seperti asimilasionisme dan diferensialisme, atau mengikuti Giddens (1995), asimilasionisme dan melting pot.
Masyarakat majemuk (plural society) berbeda dengan keragaman budaya atau multikulturalitas (plural cultural). Masyarakat majemuk lebih menekankan soal etnisitas atau suku bangsa yang pada gilirannya membangkitkan gerakan etnosentrisme dan etnonasionalisme. Sifatnya sangat askriptif dan primordial. Bahaya chauvinisme sangat potensial. Karena wataknya yang sangat mengagungkan ciri stereotip kesukubangsaan, anggotanya memandang masyarakat lain dengan cara pandang seperti itu juga. Masyarakat majemuk dengan demikian selalu mengeram konflik dalam dirinya yang setiap saat siap memanifes baik secara halus lewat kata-kata sindiran maupun secara kasar melalui tindakan kekerasan.
Berbeda dengan konsep dan perspektif masyarakat majemuk, konsep kulturalisme memang mengagung-agungkan perbedaan bahkan menjaganya laksana untaian aneka ratna mutu manikam. Tetapi, ia tidak berhenti di situ. Perspektif ini memandang hakikat kemanusiaan sebagai sesuatu yang universal dan oleh karenanya sama. Tetapi ketika bicara soal cara hidup (way of life), aturan berpikir (rule of thinking), dan pendirian atau prinsip hidup (state of mind), multikulturalisme justru melihat bahwa sungguh tidak adil kalau realitas keanekaan itu dinafikan entah dengan cara apa pun. Perbedaan dipandang sebagai kesempatan untuk memanifestasikan hakikat sosial dan sosiabilitas manusia dengan dialog dan komunikasi. Masyarakat yang hidup dalam perspektif ini sangat mementingkan dialektika yang kreatif.
Watak masyarakat multikulturalis adalah toleran. Mereka hidup dalam semangat peaceful co-existence, hidup berdampingan secara damai. Setiap entitas sosial dan budaya masih tetap membawa serta jati dirinya, tidak terlebur kemudian hilang, tetapi juga tidak diperlihatkan sebagai kebanggaan melebihi penghargaan terhadap entitas lain. Dalam perspektif multikulturalisme ini, baik individu maupun kelompok dari berbagai entitas etnik dan budaya hidup dalam societal cohesion tanpa kehilangan identitas etnik dan kultur mereka. Masyarakat bersatu dalam ranah sosial tetapi antar-entitas tetap ada jarak. Prinsipnya, aku bisa bersatu dengan engkau, tetapi antara kita berdua tetap ada jarak. Aku hanya bisa menjadi aku dalam arti sepenuhnya dengan “menjadi satu dengan engkau”, begitu sebaliknya, tetapi tetap saja antara aku dan engkau ada jarak. Jarak itu harus kita jaga dengan komunikasi, dialog dan toleransi yang kreatif.
Multikulturalisme adalah sebuah perspektif alternatif untuk mengatasi pertentangan dan konflik sosial bernuansa etnis, agama, ras dan berbagai identitas primordial lainnya. Selain pendekatan ini terdapat beberapa pendekatan lain yang hemat kami perlu diuraikan di sini secara sepintas. Dengan membandingkan multikulturalisme dengan pendekatan lain tersebut – selain dengan konsep “masyarakat majemuk yang telah diuraikan di atas – kita bisa memperoleh gambaran apakah multikulturalisme memang lebih unggul atau ideal untuk digunakan sebagai perangkat analisis.
Menurut Anthony Giddens (Sociology, 1995), terdapat tiga model pendekatan untuk pengembangan relasi etnik (atau entitas lain) di masa depan, yaitu asimilasi, melting pot, dan pluralisme kultural (multikulturalisme). Pembagian yang mirip dengan ini digambarkan oleh Maria Hartiningsih (Kompas, 14 Maret 2001) dan Profesor Parsudi Suparlan (Media Indonesia, 10 Desember 2001) yaitu asimilasionisme, diferensialisme, dan multikulturalisme. Dalam pendekatan asimilasionisme, terdapat pemilahan atas mayoritas dan minoritas. Minoritas melebur ke dalam mayoritas. Semua karakteristik khas yang melekat dalam entitas minoritas kemudian hilang ditelan karakteristik mayoritas. Di sinilah mitos pengorbanan menemukan pembenarannya. Asumsinya, dengan pembauran tersebut konflik dapat diredam.
Berbeda dengan asimilasionisme yang menyuburkan hegemoni mayoritas, pendekatan diferensialisme justru membiarkan semua entitas itu tumbuh. Tetapi, kontak, komunikasi, dialog sama sekali dihapus atau dihilangkan. Tak ada ruang untuk interaksi sosial. Konflik dihindari bukan dengan melenyapkan salah satu entitas, tetapi dengan membangun tembok tinggi antara berbagai entitas tersebut. Masyarakat dikotak-kotakkan. Contoh empiris yang menyajikan ekses ekstrem pendekatan seperti ini adalah politik apartheid di Afrika Selatan pra-Mandela. Kejahatan genosida dan pembersihan etnis (ethnic cleansing) juga mendapatkan pembenarannya di atas konsep seperti ini.
Sementara, yang dimaksudkan dengan melting pot adalah pencampuran berbagai kebudayaan atau entitas melebur menjadi sesuatu yang baru. Kita bisa menganalogikan konsep ini dengan konsep “senyawa” dalam ilmu kimia. Misalnya, unsur H (hidrogen) direaksikan dengan unsur O (oksigen) dengan ukuran (dalam ilmu kimia diistilahkan “moll”) tertentu akan menghasilkan H2O yang sering kita sebut sebagai air. Ia lebih dari sekadar sebuah larutan (misalnya larutan air dan gula yang kedua unsurnya masih bisa dirasakan kendati sudah menyatu), apa lagi dari sekadar campuran (misalnya tanah dan air dicampur, di mana kedua unsurnya tidak menyatu dan sangat mudah dipilah dan dibedakan). Dalam sejarah dunia, kita mengenal adanya kebudayaan Helenisme zaman Aleksander Agung yang merupakan persenyawaan kebudayaan Yunani dengan kebudayaan wilayah-wilayah taklukannya. Giddens mencontohkan kebudayaan Anglo Amerika untuk menggambarkan model melting pot ini.
Nyata dari berbagai pendekatan tersebut terdapat kekurangan dan kelebihan. Pendekatan multikulturalisme pun memiliki kekurangan selain kelebihan yaitu sangat rentan dengan bahaya diskriminatif, bahkan oleh orang semacam Dr. Gary Hull, pendekatan ini justru contradictio in terminis dan sarat paradoks. “Distinct but equal”, berbeda tetapi sama. Tetapi, bagaimanapun, pendekatan ini jauh lebih memadai daripada berbagai pendekatan lainnya. Giddens sendiri menganjurkan untuk memadukan ketiga pendekatan asimilasi, melting pot, dan multikultralisme, tetapi seperti apa bentuknya, belum jelas. Selain itu, kita perlu memahami bahwa kecurigaan dan keraguan terhadap multikulturalisme lebih diakibatkan oleh bergesernya wacana tersebut dari memandangnya sebagai pendekatan intelektual dan eksistensial ke pendekatan politik semata. Ketika dipandang sebagai pendekatan politik, ia tidak bisa luput dari bias. Padahal, cukup dipahami secara sederhana saja bahwa inti multikulturalisme adalah relasi makna yang saling bersentuhan untuk mencapai pemahaman yang utuh dan komprehensif atas berbagai kultur.


Sumber:
Abdul Haris Semendawai dan Eddie Sius R. Laggut. Otonomi Daerah dalam Kehidupan Multikulturalitas di Indonesia. Artikel.
\\http://www.forum-ektor.org/artikel.php?hal=3&no=25

Thursday, October 23, 2008

MANTAN SAHABAT DAN SEORANG KAWAN


dari sebuah kisah klasik tulisan ini terlahir, secarik demi secarik kertas aku bongkar dari brankas meja belajarku. masih becampur dengan kertas2 yang tak terpakai, bau menyengat dan debu tak menyurutkan untukku mengabadikan serpihan kisah ini. Aroma wangi dari kertas surat sudah tak berbekas, hanya ingatanku saja yang masih sangat tajam merekam aroma wangi kertas saat pertama kali kubuka. seakan waktupun kembali berputar, serasa waktu ini adalah pertama kali aku memegang kertas2 itu. ini pun telah menjadi saksi perjalanan sunyi persahabatan dua orang manusia.

sengaja sajak2 kembali aku tulis untuk suatu keabadian, karena aku tahu kau pasti tidak mempunyai salinan akan sajak2 indahmu. memang sudah tak terasa dan teringat oleh kita kenangan2 masa lalu itu, kenangan akan suatu persahabatan yang memang harus terpaksa diputus saat ini. Dan hingga sampai saat aku selesai menulis, ternyata kisah klasik itu telah menjadi masa depan.

banyak angan2 dalam pikiran ini yang igin mengungkapkan beribu2 terimakasih, terimakasih atas pengorbanan selaama ini yang tdk pernah aku ketahui, waktu, daya dan segala tenaga untuk seorang sahabat terlupa. tapi kata2 itu tidakpernah sanggup aku ungkapakan, hanya mampu tertulis dalam hati dan pikiranku

hanya untukmu seorang sahabat kisah ini terabadikan, dalam dinginnya malam dan teriknya matahari…….

dalam hari2 dimana kita telah mengukir satu kisah cerita

bukan suatau kisah cinta, tapi kisah saat kita mencari kedewasaan


Sengaja sajak2 kembali aku tulis untuk suatu keabadian, untuk suatu keabadian hidupmu yang baru. ini adalah sambungan dari surat terakhir yang mungkin aku kirim sebagai pengantar kado pernikahan mu. Semoga tanggal 19 okt 2008 menjadi titik balik dimana kita menjadi manusia sempurna dengan menjalankan perintahNya. Kado yang kuberi mungkin tak seberapa, tapi dengan 2 bingkai photo kecil yang terangkai satu itu, aku berdoa agar begitu juga dengan kehidupan keluargamu. selalu terbingkai dalam keluarga sakinah, mawadah, warohmah. sealu terangkai dalam menjalani bahtera kehidupan.amien..

teruntuk sahabatku, NANA & huri


sajak2 ini telah tersimpan rapi dalam lembaran2 kertas,

bertahun2 yang mungkin akan termakan usia.

dan tidak ada niatan buruk untukku menuliskan sajak2 ini,

hanya sebagai teman pelipur saat hati ini lara…


ultahku ke 16 th

Seandainya saat ini kamu bimbang

lalu kamu beranikan diri untuk melangkah,

satu langkah ke depan

pasti nantinya akan ada hal yang hanya kamu yang bisa melakukannya


saat kau terbang ke angkasa

aku akan menjadi anginmu

sehingga ketika kau kembangkan sayapmu

aku akan mengantarmu kemanapun kau pergi

saat kau berjalan seorang diri

aku akan menjadi tongkatmu

sehingga ketikau kau kehilangan arahmu

aku akan menuntunmu kesuatu titik terang

saat kau berada dalam kegelapan

aku akan terus menuyinarimu

dengan cahayaku yang masih tersisa

sahabatku, walau kau gemetar karena sepi

aku akan disisimu untuk membimbingmu

selayak sahabat sejati..

Ragukanlah kalau suatu ketika mentari kan beku

ragukanlah pula kalau bintang bisa tersenyum

tapi janganlah ragu akan ketulusanku

janganlah ragu akan sahabatmu ini ……..

aku ingin kau tau kau adalah sahabat sejatiku ……..


ingatkah rangkaian kata2 itu...??

ku ingin kau ingat kawanmu ini, ber PEDE lah dengan semua yang kau miliki, karena kau adalah sempurna, sesempurna hatimu yang setia, jika kau yakin JADIKANLAH AKU PACARMU yang kedua setelah dia pergi. Tapi ingat jangan biarkan hidupmu BOBROK tuk kedua kalinya karena dia. Slalu PERHATIKAN RANI dan jagalah dia, semoga kau tak ragu. ku tahu kau belum biasa dengan kebebasan tapiteruslah berjalan, jika berjalanmu dengan TERTATIH aku sebagaitemanmu akan selalu membantumu JANGAN BIARKAN PERKAWANAN KITA SEMUA TERPECAH berai. Igatlah slalu saat-saat dulu KITA bersama, tawa riang, senandung dan keceriaanselau berada di sekeliling kita. DAN kumohon jangan kau lupa itu, ku tanya kawan apakah persahabatan kita merupakan suatu yang berharga, bagiku itu adalah ANIGRAH TERINDAH YANG PERNAH KUMILIKI. Dibenakku TERLINTA DUA KATA tentangmu bagi diriku kau adalah sahabat terbaikku


kelas 1'9

Mungkin benar cintamu hanya untuknya

yang takkan lekang oleh sang waktu

entah sampai kapan

kan slalu jadi cerita lembaran hidupmu

juga bahtera cintamu, raih cinta sejatimu

saat kau butuh, disini ada aku

berbagilah dengan aku

karna ku ingin menatap keindahan ini denganmu

hey sahabatku.

Dalam perjalananmu kau tak sendiri

seorang sahabat ada disisimu

seorang sahabat yang kelak,

tapi entah kapan akan menjadi sahabat sejatimu,

itu pasti



kls 1'9

shobat,

kala embun tak lagi menyejukkanmu

dan mentari enggan bersinar untukmu

tak usah cemas dan kecewa

padaku kau bisa berbagi

tenteng resah dan galaunya hati,

agar hilang selaksa duka sekuntum lara

karena ku ingin senyum bahagia

terukir di bibirmu senantiasa

shobat,

kaulah satu2nya yang paham akan diriku

saat ku sedih sat ku gundah

kaulah tempatku mengadu

kaulah yang mengulurkan tangan saat aku terpuruk dijalanku

shobat

kau slalu membuakan hatimu untukku

kau slalu meluangkan waktu pentingmu untukku

hanya dirimu yang mengerti akan dirimu


kls 1'9

shobatku, ingatlah apa yang aku katakan ini,

semua yang kau alami baik kesediahan kesulitan kepedihan dan keputusasaan semata2 adalah cobaan dari Allah sebagai penguji Imanmu. janganlah kau mengeluh, kau dan dia ditakdirkan bertemu dan menjalani cobaan yang sama2 berat. jika kau sedang mengalami cobaan ingatlah akan Tuhanmu, Allah wan. Jangan pernah kau lupakan Dia dimanapun kau berada. Sudahkah kau beribadah dan memohon petunjuknya agar kau lekas keluar dari masalah ini dan kembali seperti sedia kala. sembahyanglah karena sekarang aku tak pernah melihatmu perdi ke mushola, mengambil air wudlu dan menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Sholatlah agar kau tidak sesat, agar kau selalu dalam lindunganNya. Mintalah ampun dan berdoalah supaya hidupmu senantiasa terang dan damai.

Bukannya aku sok suci hingga menceramahimu, aku hanya mengingatkan karna kutau, ibadah yang aku lakukan belum mampu menghapus dosa2ku, sedikitpun belum.



Saat aku mulai memainkan pena ini

kuingat kembali segala keceriaan yang kau miliki..

kebaikan dan persahabatan darimu masih dan akan kukenang seumur hidupku…

darimu aku belajar tenteng sesuatu

sesuatu dalam hidup ini yan gpenuh dengan liku-liku…

darimu aku mengenal dan memahami arti sebuah persahabatan

kau ajarkanku tenteng duniamu dan sebuah kepercayaan

kepadaku kau bercerita dengan tanpa beban

dengan kepercayaan yang sangat dan tanpa keraguraguan

kau tahu………. bagiku itu suatu kehormatan

karena orang sepertimu mempunyai rasa persahabatan

kepada orang seperti aku yang mungkin tak pantas…..

Sungguh persahabatanmu membawa banyak perubahan dalam hidup

ku berharap persahabatanmu tulus adanya

tanpa pernah kau menyesal dengan persahabatanmu itu

tanpa kautahu

kau telah membantu ku berdiri dari serpihan-serpihan luka yang selama ini kurasa

kenanglah aku sebagai sahabatmu

kaupun takaan kulupa seumur hidupku

dulu, sekarang, nanti , dan selamanya


Don’t forget me

when you making the new frend

because the new are silver

but the old are gold

don’t forget



TULISAN 2 INI KU BANGUN DARISERPIHAN2KISAH KITA KAWAN, ENTAH SAMPAI KAPAN KAU AKAN MENEMUKAN KISAH2 YG TERABADIKAN INI

ingatkah kau kisah abadi ku kawan............!


Related Posts with Thumbnails
 

About

Text

Recycle Posts Copyright © 2009 Communityiwanul